Kamis, 23 April 2026

KUPI BEUNGOH

Memahami Antrean Panjang Pengisian BBM di Banda Aceh

Situasi darurat ini memicu reaksi berantai, menembus batas-batas wilayah yang aman, termasuk Banda Aceh, kota yang relatif selamat dari bencana .

Editor: Yocerizal
Serambinews.com/HO
Zahrul Fadhi Johan, Anggota Bawaslu Banda Aceh. 

Namun di daerah terdampak, BBM menjadi barang langka. Karena itu, warga memilih mengisi penuh kendaraan di Banda Aceh, bahkan membawa tambahan BBM sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap keluarga yang membutuhkan. 

Dalam situasi seperti ini, antrean panjang bukan sekadar fenomena konsumsi, melainkan cermin kepekaan sosial.

Kedua, pemadaman listrik bergilir di Banda Aceh turut menambah beban kebutuhan energi. Saat listrik padam, masyarakat berbondong-bondong mencari tempat untuk mengisi daya perangkat kerja dan telekomunikasi. 

Salah satu pilihan yang paling mudah dijangkau adalah warung kopi yang tetap menyala berkat penggunaan genset, sehingga menjadikannya lokasi pelarian sementara.

Sementara, genset yang menjadi penopang listrik darurat itu hanya dapat beroperasi dengan BBM. Akibatnya, permintaan BBM bukan lagi sekadar datang dari pemilik kendaraan, tetapi juga dari pelaku usaha kecil yang harus menjaga roda usahanya tetap bergerak di tengah situasi yang tidak menentu. 

Lonjakan kebutuhan ini membuat konsumsi BBM meningkat tajam, jauh melampaui hari-hari biasa.

Pada akhirnya, antrean panjang di SPBU Banda Aceh bukan sekadar respons panik tanpa alasan. Kondisi ini merupakan cerminan kekhawatiran, kepedulian, sekaligus strategi bertahan masyarakat dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti. 

Baca juga: Serba-Serbi Kontroversi Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Bencana, Murka Mualem, Dicopot dari Ketua DPC

Baca juga: Demi Beli LPG, Ribuan Warga Rela Antre dari Subuh di Pasar Tani Banda Aceh

Cerita tentang Solidaritas, Kebutuhan, dan Keteguhan

Meski demikian, dalam situasi seperti ini selalu muncul oknum yang mencoba mencari keuntungan dengan membeli BBM dalam jumlah besar lalu menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi. 

Praktik semacam ini dapat terjadi di mana saja, dan karenanya sangat penting bagi masyarakat untuk tetap bijak serta tidak terpancing tindakan merugikan sesama.

Dengan memahami dinamika ini, sebagai masyarakat, kita dapat melihat bahwa di balik antrean yang melelahkan itu, tersimpan cerita tentang solidaritas, kebutuhan, dan keteguhan. 

Bencana banjir bandang yang melanda Aceh tidak hanya menyesakkan masyarakat yang terdampak langsung, tetapi juga dirasakan oleh warga kota Banda Aceh dan sekitarnya. 

Sebuah pengingat bahwa ketika satu daerah seperti halnya sekarang, Aceh, Sumatera Utara, dan Suma6 Barat terkena musibah, maka seluruh Aceh bahkan daerah lain pun di Indonesia turut merasakan getirnya.

*) PENULIS adalah Anggota Bawaslu Kota Banda Aceh. Email: zahrulfadhijohan@gmail.com.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved