Opini

Siklon Tropis Senyar dan Urgensi Mitigasi Bencana

Meskipun siklon tropis--atau yang dikenal sebagai topan di beberapa belahan dunia--secara teori jarang melintasi wilayah Indonesia

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Ir Bambang Setiawan ST M Eng Sc, Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK 

Dr Ir Bambang Setiawan ST M Eng Sc, Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK

INDONESIA sebagai negara kepulauan yang terletak di zona Cincin Api Pasifik (Pacific ring of fire) dan memiliki iklim tropis, secara inheren rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, baik geologis maupun hidrometeorologi. Meskipun siklon tropis--atau yang dikenal sebagai topan di beberapa belahan dunia--secara teori jarang melintasi wilayah Indonesia karena letaknya yang dekat dengan khatulistiwa, realitas perubahan iklim global telah menghadirkan ancaman yang semakin tak terduga dan destruktif.

Sebuah peristiwa tragis yang menegaskan kerentanan ini adalah datangnya Topan Senyar (atau Siklon Tropis Senyar) yang menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Peristiwa ini tergolong tidak umum terjadi di Selat Malaka dan pantai barat Sumatera, menjadikannya sebuah pengingat bagi kita semua bahwa ancaman bencana kini bisa datang dalam bentuk dan intensitas yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Topan Senyar, yang awalnya berkembang di Selat Melaka di lepas pantai timur Provinsi Aceh, dengan cepat menguat dan mendekati daratan di sepanjang pesisir timur. Kehadirannya ditandai dengan curah hujan ekstrem dan angin kencang yang luar biasa. Tidak seperti badai pada umumnya di wilayah ini, siklon tropis Senyar mempertahankan kekuatannya saat melintasi daratan Aceh dan bergerak ke selatan, memasuki wilayah Sumatera Utara hingga Sumatera Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa cuaca ekstrem ini, dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal termasuk peningkatan siklon tropis Senyar, menghasilkan curah hujan yang mencapai lebih dari 150 mm per hari--sebuah intensitas yang melebihi kapasitas drainase dan daya tampung sungai setempat. Peristiwa alam yang jarang terjadi ini dengan cepat memicu serangkaian bencana turunan yang meluluhlantakkan sebagian dari Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, hingga Provinsi Sumatera Barat. Intensitas hujan yang diakibatkan oleh Topan Senyar menghasilkan dampak bencana hidrometeorologi yang parah dan meluas, sehingga mengalami kerugian besar.

Curah hujan ekstrem dengan cepat menyebabkan banjir bandang dan banjir luapan di berbagai kabupaten/kota di ketiga provinsi di atas. Banjir ini menyebabkan ribuan warga harus mengungsi karena ketinggian air di beberapa lokasi mencapai 2 meter atau lebih. Ratusan hektare sawah dan tambak juga terendam, menghancurkan mata pencaharian utama masyarakat. Di beberapa kawasan, curah hujan ekstrem tersebut diperparah oleh perubahan tutupan lahan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengurangi kemampuan tanah untuk meresapkan air, sehingga meningkatkan laju erosi dan debit air permukaan.

Intensitas hujan yang sangat tinggi akan menyebabkan tanah yang jenuh air dan memicu bencana tanah longsor di wilayah-wilayah perbukitan dan lereng curam. Infrastruktur vital menjadi korban utama. Bencana tanah longsor berakibat pada putusnya jalan utama di banyak lokasi akibat timbunan material longsor, mengisolasi ribuan jiwa di beberapa kabupaten/kecamatan. Tanah longsor ini tidak hanya memutus akses, tetapi juga menjadi penyebab utama hilangnya korban jiwa. Material longsor yang menimbun pemukiman dan jalan secara tiba-tiba menyulitkan proses evakuasi dan pencarian.

Dampak Topan Senyar meninggalkan catatan pilu berupa kerugian material yang sangat besar dan korban jiwa yang tak sedikit. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga beberapa hari setelah kejadian, percepatan pendataan terus dilakukan mengingat akses yang terputus di banyak lokasi. Hingga awal Desember 2025, tercatat ratusan jiwa meninggal dunia di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ratusan orang lainnya dinyatakan hilang dan masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.
Di Sumatra Utara saja, puluhan orang dilaporkan hilang akibat longsor di Tapanuli Selatan dan sekitarnya. Ribuan jiwa, termasuk di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga, terpaksa mengungsi ke posko-posko darurat. Data-data ini masih akan terus bertambah sejalan dengan waktu.

Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah atau mungkin triliunan.  Bencana ini telah menyebabkan kerusakan infrastruktur berupa rusaknya jembatan, putusnya ruas jalan nasional dan provinsi, serta kerusakan pada bendungan dan sistem irigasi. Kerusakan permukiman juga terjadi, dimana ratusan rumah rusak berat hingga hanyut terbawa banjir dan longsor. Kerugian pertanian di sisi lainnya, dimana lahan pertanian dan perkebunan, termasuk ratusan hektare sawah, mengalami gagal panen total. Gangguan mobilitas dengan terputusnya akses darat menghambat penyaluran bantuan dan kegiatan ekonomi masyarakat secara drastis.

Kesiapsiagaan

Peristiwa Topan Senyar adalah pukulan keras yang harus dijadikan momentum untuk mengevaluasi dan meningkatkan kesiapsiagaan bencana kita. Sebagian besar dari kita yang berada di Aceh pada saat dan setelah kejadian merasakan bahwa bencana hidrometeorologi siklon tropis Senyar telah menyebabkan terputusnya jaringan telekomunikasi, terjadinya pemadaman listrik, terkendalanya jaringan air bersih, dan terhentinya jalur logistik pada sebagian kawasan. Dengan merasakan dan memperhatikan kondisi di Banda Aceh hingga hari ini, cukup bisa kita simpulkan bahwa kesiapsiagaan sebagian besar dari masyarakat dan juga pemangku kepentingan lainnya masih kurang.

Beberapa hari menjelang bencana topan tropis Senyar, sebagian besar dari kita tidak terpapar akan adanya sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) melalui berbagai saluran berita (radio, TV, media sosial, sirene, dan pesan singkat) agar tidak berada pada wilayah yang terlewat atau bersiap diri terhadap berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Setelah kejadian bencana, jaringan komunikasi pada dan dari kawasan landaan bencana dan sekitarnya relatif lumpuh total.

Sebagian besar kita tidak bisa berkabar pada keluarga, kerabat atau kawan dan kolega. Penyediaan logistik mandiri seperti tas siaga bencana (TSB) yang berisi dokumen penting, obat-obatan, makanan instan atau makanan dan minuman kemasan yang tidak mudah basi (untuk 3 hari), lampu senter, radio kecil bertenaga baterai/engkol, peluit, dan perlengkapan P3K juga sangat langka atau tidak kita lihat sama sekali. Dana kontingensi pemerintah yang cukup dan mudah diakses untuk respons cepat tanpa menunggu birokrasi yang panjang sepertinya juga tidak bisa terasa secara cepat di tengah masyarakat yang menjadi korban.

Jumlah relawan lokal yang mampu melakukan pertolongan pertama dan evakuasi di fase-fase awal bencana, sebelum bantuan dari luar tiba juga sepertinya sangat terbatas. Untuk kasus di Aceh berbagai kajian potensi kebencanaan memang rutin dilakukan, tetapi menjadikannya sebagai sebuah prosedur tetap (protap) dan menjadi sebuah aksi kesiapsiagaan masih memerlukan komitmen tersendiri.

Kepedulian sesama

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved