Minggu, 26 April 2026

Opini

Siklon Tropis Senyar dan Urgensi Mitigasi Bencana

Meskipun siklon tropis--atau yang dikenal sebagai topan di beberapa belahan dunia--secara teori jarang melintasi wilayah Indonesia

Editor: mufti
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Ir Bambang Setiawan ST M Eng Sc, Dosen Prodi Teknik Geologi Fakultas Teknik USK 

Hal menarik yang penulis amati dari kejadian bencana di akhir November 2025 ini adalah sangat tingginya kepedulian terhadap sesama di lingkungan masyarakat. Flyer dan posko-posko penggalangan bantuan cepat sekali menjamur dimana-mana dalam hitungan kurang dari dua hari. Pada media sosial, sebagian besar netizen dengan lantang menyuarakan dan mendesak pemerintah untuk segera turun ke lapangan dan memotret dampak bencana secara utuh. Dukungan dan doa dari tanah Papua juga sering kita lihat lewat beranda media sosial. Dalam perjalanan penulis untuk pengiriman bantuan dan relawan menuju Blang Kejeren, Gayo Lues via jalur ekstrem Babahrot (Aceh Barat Daya)-Terangun (Gayo Lues) dukungan dan bantuan dari masyarakat sepanjang jalan juga begitu terasa.

Banyak kepala daerah baik itu gubernur, bupati, dan wali kota segera turun ke tengah masyarakat, meskipun dalam benak sebagian besar kita tentu hal ini memang sudah menjadi tanggung jawab mereka. Tetapi kita saksikan juga sirat ketulusan di raut wajah mereka. Dua puluh satu tahun yang lalu kita pernah mengalami masa-masa sulit yang lebih kurang setara, Insya Allah kali ini dengan sinergi bersama kita juga akan mampu bangkit dan pulih kembali.

Kisah Topan Senyar kali ini adalah alarm serius. Bukan hanya tentang seberapa kuat badai itu datang, tetapi juga mengukur seberapa rapuh ketahanan kita dalam menghadapinya. Untuk keluar dari siklus kerentanan, Indonesia harus mengubah paradigma dari respons reaktif pasca-bencana menjadi mitigasi dan kesiapsiagaan proaktif sebelum bencana terjadi. Dengan langkah-langkah kesiapsiagaan yang holistik, mulai dari kebijakan tata ruang, investasi pada teknologi peringatan dini, hingga edukasi yang mengakar di masyarakat, Insya Allah kita dapat mengurangi risiko dan dampak yang ditimbulkan.

Dalam situasi tertentu, bencana memang tak terhindarkan, namun korban jiwa dan kerugian besar harus dapat diminimalkan. Ketangguhan bangsa diuji bukan saat badai datang, melainkan dari persiapan yang dilakukan jauh sebelum awan gelap terlihat.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved