Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tiga Bupati, dan “Ground Truth”

dalam konteks bencana Senyar25, tangisan itu justru menjadi bahasa paling jujur dari negara yang sedang berada dalam kondisi “under stress”.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, 

Pengakuan ini penting, bukan karena dramatis, tetapi karena jujur. 

BENCANA DI ACEH - Presiden Prabowo Subianto meninjau dan mengunjungi para pengungsi di Karang Baru, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Jumat (12/12/2025). Kunjungan ke Aceh ini menjadi yang ketiga kalinya setelah wilayah itu diterjang banjir dan tanah longsor.
BENCANA DI ACEH - Presiden Prabowo Subianto meninjau dan mengunjungi para pengungsi di Karang Baru, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Jumat (12/12/2025). Kunjungan ke Aceh ini menjadi yang ketiga kalinya setelah wilayah itu diterjang banjir dan tanah longsor. (angkapan Layar YouTube ABC News)

Dalam sistem pemerintahan yang sering menutupi kelemahan dengan bahasa formal, pernyataan “tidak mampu” adalah bentuk kejujuran politik, bahkan kejujuran moral yang langka. 

Para bupati ini tidak sedang mencari simpati; mereka sedang menyampaikan pesan struktural: Senyar25 telah melampaui ambang kapasitas daerah.

Pesan itu diperkuat di tingkat provinsi. 

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam wawancara bersama Najwa Shihab, tampil dengan ekspresi yang jauh dari bahasa kekuasaan. 

Ia menangis. 

Bagi sebagian orang, tangisan pejabat publik bisa dianggap sebagai tanda kelemahan. 

Namun dalam konteks bencana Senyar25, tangisan itu justru menjadi bahasa paling jujur dari negara yang sedang berada dalam kondisi “under stress”. 

Tangisan tersebut menyampaikan apa yang tidak bisa lagi diwakili oleh angka atau grafik: beban yang ditanggung Aceh terlalu besar untuk ditangani sendiri.

Baca juga: Bapak Presiden! Anda Punya Tongkat Nabi Musa - Status Bencana Nasional

Jika disarikan, pesan dari tiga bupati dan satu gubernur ini satu dan sama: bencana Senyar25 melampaui kapasitas daerah, baik dari sisi sumber daya, kewenangan, maupun daya tahan institusi.

Ketika Presiden Prabowo Subianto turun ke lapangan, ia memasuki ruang realitas yang sama, tetapi dari posisi yang berbeda. 

Pada fase awal, seperti semua kepala negara, ia menerima laporan administratif: peta wilayah terdampak, angka kerusakan, estimasi korban, dan evaluasi sektoral dari bawahannya. 
Ini adalah “administrative truth”- penting, tetapi selalu memiliki jarak dengan kenyataan hidup warga.

Kunjungan langsung ke Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah mengubah jarak itu. 

Yang ia hadapi bukan lagi dokumen, melainkan warga yang kehilangan rumah, wilayah yang terisolasi, listrik yang padam berhari-hari, komunikasi yang terputus, dan sistem pemerintahan lokal yang bekerja dalam kondisi darurat terus-menerus. 

Realitas yang sebelumnya berada di atas kertas kini menjadi pengalaman nyata.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved