Sabtu, 30 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Prabowo, Mualem, Tiga Bupati, dan “Ground Truth”

dalam konteks bencana Senyar25, tangisan itu justru menjadi bahasa paling jujur dari negara yang sedang berada dalam kondisi “under stress”.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, 

Di titik inilah muncul pernyataan yang kemudian menjadi simbol pengakuan: “Saya tidak punya tongkat Nabi Musa.”

Kalimat ini sederhana, tetapi sarat makna. Ia bukan metafora religius untuk menarik simpati, melainkan pengakuan eksplisit bahwa skala kehancuran Senyar25 berada di luar kemampuan normal manusia dan birokrasi. 

Dalam bahasa kepemimpinan militer, ini adalah momen “ground truth realization”- saat seorang pemimpin menyadari bahwa realitas lapangan tidak bisa diselesaikan dengan prosedur rutin atau optimisme simbolik.

Yang penting dicatat, pernyataan Presiden ini tidak berdiri sendiri. 

Ia tidak membantah suara daerah, tidak mengoreksinya, dan tidak meredamnya. 

Justru sebaliknya, pernyataan tersebut mengamplifikasi apa yang telah lebih dulu disampaikan oleh tiga bupati dan Gubernur Muzakir. 

Dari daerah hingga pusat, pesan yang muncul konsisten: Senyar25 adalah bencana yang melampaui kapasitas daerah.

Dalam konteks ini, pengalaman Prabowo di Fort Bragg menjadi relevan bukan sebagai glorifikasi latar belakang militer, tetapi sebagai penjelasan tentang pola pikir. 

Baca juga: Senyar Aceh 25, Gelap, dan Lilin-Lilin yang Kita Abaikan

Di dunia militer, mengakui keterbatasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan syarat untuk bertahan. 

Pemimpin yang menolak membaca ground truth justru berisiko menjerumuskan sistem ke dalam kegagalan yang lebih besar.

Namun di sinilah pemisahan penting harus ditegaskan dengan jernih. 

Bahwa Presiden kemudian tidak menetapkan Senyar25 sebagai bencana nasional adalah urusan lain. 

Itu berada di wilayah keputusan politik dan administratif, dengan pertimbangan yang bisa sangat kompleks.

Negara harus hadir secara nyata

Tulisan ini tidak sedang menilai benar atau salah keputusan tersebut.

Yang menjadi fokus adalah sesuatu yang lebih mendasar: pengakuan realitas.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved