KUPI BEUNGOH
Dibiarkan Menderita dalam Banjir Raksasa: Phet That Nasib Cucu Iskandar Muda
Negara sepertinya absen dan ogah menetapkan sebagai bencana nasional yang wajib ditangani oleh Pusat.
Oleh: Jafar Insya Reubee*)
Sejak Selasa 26 November 2025 jutaan rakyat Aceh menjadi korban bencana banjir bandang raksasa berjudul Siklon Senyar 2025.
Banjir bandang ini terjadi karena penggundulan hutan Aceh oleh sejumlah perusahaan nasional yang diberi izin oleh pusat NKRI di Jakarta.
Izin perkebunan di hutan Aceh dikeluarkan oleh Jakarta, namun yang menderita adalah rakyat Aceh. Phet that nasib!
Sedikitnya 18 kabupaten/kota di Aceh terdampak dari banjir bandang itu. Pilu, luas sekali jangkauan bencana ini.
Wilayah Tengah (Gayo hingga Aceh Tenggara) dan Timur (terutama Aceh Tamiang) adalah kawasan terparah menerima dampaknya. Jalan dan jembatan terputus. Aceh terkurung dalam bencana.
Baca juga: Derita Aceh, Kejahatan Belanda Hingga Penantian Imam Mahdi
Desa-desa hancur, rumah-rumah hanyut, ratusan nyawa manusia melayang, puluhan ribu orang harus mengungsi.
Mereka terkurung dalam bencana banjir raksasa akibat tangan manusia yang sangat jahil. Gob pajoh mangat, rakyat Aceh yang menderita.
Bangsa Besar
Aceh pernah menjadi bangsa besar di masa Kesultanan Aceh Darussalam (1496-1945).
Kala itu Aceh menjadi penguasa dan penakluk Selat Melaka.
Jejak-jejak keagungan Aceh Darussalam masih tersisa di beberapa negara bagian di Malaysia, seperti di Negeri Pahang, Negeri Melaka, Negeri Kedah, Negeri Penang, Negeri Perak, Negeri Selangor dan lain-lain.
Bahkan, Iskandar Tsani yang menjadi sultan Kerajaan Aceh Darussalam setelah Iskandar Muda adalah berasal dari Kesultanan Pahang. Hebat relasinya dulu.
Sedihnya Cucu Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda (1607-1636) tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Aceh dan Melayu. Iskandar Muda adalah sang penakluk di dunia Melayu.
Beliau melakukan penaklukan hingga ke Negeri Melaka dalam rangka memastikan jalur Selat Melaka aman dari kekuasaan asing, yaitu Portugis.
Baca juga: Prabowo, Mualem, Tiga Bupati, dan “Ground Truth”
Anda yang pernah pergi ke Melaka pasti paham. Hingga kini terdapat prasasti jejak langkah Kesultanan Aceh Darussalam dalam membebaskan Melaka dari jamahan Portugis.
Namun, kini di tahun 2025, cucu-cucu Iskandar Muda menangis pilu, tersedu-sedu, di seluruh wilayah terdampak banjir Siklon Senyar.
Cucu-cucu Iskandar Muda sekarang menjerit di mana-masa. Nyaris tak ada yang bantu mereka, laksana Iskandar Muda dulunya suka membantu negeri-negeri Melayu dari aneksasi Portugis.
Dalam sebuah laporan televisi nasional, presenter perempuan melakukan siaran live sambil menangis tersedu-sedu melihat penderitaan cucu Iskandar Muda yang terkurung, terlantar, diancam penyakit, dan tak hadirnya negara dalam upaya membantu mereka.
Cucu-cucu Iskandar Muda sekarang lagi menunggu datangnya Imam Mahdi dalam upaya membebaskan mereka dari penderitaan yang sangat menyakitkan.
Hampir satu bulan cucu-cucu Iskandar Muda berada dalam kurungan banjir bandang.
Baca juga: Masjid Al-Kubra Kuta Binjei Ramah “Pengungsi Nomaden” Lintas Agama, Bukti Aceh Toleran
Negara sepertinya absen dan ogah menetapkan sebagai bencana nasional yang wajib ditangani oleh Pusat. Ada kesan pembiaran dalam derita.
Anehnya, bantuan dari luar negara sendiri juga dilarang. Duh! Alangkah pahit (phet that) nasib cucu Iskandar Muda saat ini.
Semoga doa-doa cucu Iskandar Muda agar terbebas dari penderitaan segara terkabul, dan mereka dapat hidup dalam kejayaan seperti dahulu kala yang sangat terhormat.
*) PENULIS adalah Pemerhati Pembangunan Aceh, berdomisili di Negeri Selangor Kerajaan Malaysia
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jafar-Insya-Reubee-Pemerhati-Pembangunan-Aceh-berdomisili-di-Negeri-Selangor-Malaysia.jpg)