KUPI BEUNGOH
Antara Hadir dan Memimpin: Evaluasi Kepemimpinan Kepala Daerah di Masa Krisis
Jangan sampai kebutuhan itu hanya ribut di media sosial dan televisi nasional, sementara komando formal justru senyap.
Kondisi ini terasa ironis. Selama lebih dari dua dekade, Aceh telah memiliki pakar, institusi, dan pengalaman kolektif dalam bencana.
Universitas Syiah Kuala, misalnya, telah membentuk satuan tugas respons senyar Aceh yang bekerjasama dengan berbagai pihak yang datang ke Aceh dan melakukan pemutakhiran data harian.
Sekretariatnya berlokasi di pusat studi bencana Aceh yang berjarak hanya hitungan kilometer dari posko komando utama tanggap darurat bencana yang berlokasi di kantor gubernur Aceh. Namun yang tampak justru birokrasi berjalan sendiri-sendiri.
Dalam situasi hari ini, kerja strategis kepala daerah menjadi kunci.
Mekanisme distribusi bantuan perlu diperjelas, data yang sudah ada harus benar-benar digunakan, koordinasi lintas daerah dan pakar diperkuat, dan komunikasi publik dilakukan secara rutin serta transparan.
Relawan telah bekerja melampaui kapasitasnya, mereka tidak seharusnya menggantikan peran negara.
Hadir saja tidak cukup. Harus ada tujuan, arah, dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Selama masa kampanye, dapil dihafal luar kepala dengan tujuan begitu jelas: dipilih. Maka dalam krisis seperti ini, ketika sudah dipilih, tujuan menjangkau seluruh rakyat seharusnya diperjuangkan dengan kesungguhan yang sama, jika tidak lebih, menggunakan seluruh kekuasaan yang sudah dimiliki.
Kepemimpinan dalam masa bencana membutuhkan cara berpikir kebencanaan atau disaster mindset, kepekaan akan masa krisis atau sense of crisis, gerak cepat, dan keberpihakan nyata kepada rakyat yang menitipkan amanah pada pilihannya, bukan kepada kekuasaan yang memberinya jabatan.
Satu bulan masa tanggap darurat akan bertepatan dengan 21 tahun bencana nasional 26 Desember 2004.
Periode paling kritis sayangnya sudah terlewat.
Jika kepemimpinan daerah tidak bergerak lebih cepat dengan komando dan koordinasi yang jelas, maka kegagalan kepemimpinan itu sendiri berpotensi berubah menjadi bencana kemanusiaan yang sesungguhnya.
Dalam krisis sebesar ini, rakyat Aceh tidak hanya membutuhkan kehadiran pemimpin, tetapi kepemimpinan itu sendiri yang mampu memberi arah dan harapan yang terukur.
Di sinilah amanah jabatan diuji.
Wallahu a’lam bishawab, hanya Allah yang mengetahui kebenaran sebenarnya.
*) Penulis adalah adalah warga Banda Aceh, kandidat doktor psikologi komunitas di Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Fairuziana-Humam.jpg)