Minggu, 26 April 2026

Opini

Duka Aceh di Antara Air Asin dan Air Tawar

Mirisnya, ada kayu yang panjangnya berkisar 4 atau 5 meter dan bernomor yang menunjukkan kayu-kayu itu terindikasi ada pemiliknya

SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Azhari, wartawan peliput konflik, damai, tsunami, dan rehab rekon Aceh, serta mantan Kepala Biro Aceh LKBN Antara. 

Kemudian Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara, Aceh Singkil, Mayo Lues, Kota Subulusalam, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Aceh Barat.

Banjir kali ini berbeda.

Bukan hanya air, tapi ikut menyeret lumpur serta kayu-kayu gelondongan, entah dari mana asalnya.

Jalan raya, pemukiman dan lahan-lahan pertanian rakyat tenggelam.

Banjir dan longsor berdampak hanyutnya jembatan, jalan antar kabupaten dan kecamatan serta desa terputus, sehingga ada desa-desa yang  terisolasi.

Listrik padam, telekomunikasi berhari-hari terputus menyebabkan Aceh terkurung dari dunia luar untuk beberapa hari sebagai bukti bencana ini nyaris seperti tsunami kedua.

Banda Aceh, Kota Sabang dan Aceh Besar, memang tidak separah bencana di Aceh Tamiag, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, dan daerah dataran Tinggi Tanah Gayo, namun dampaknya juga luar biasa, seperti krisis gas elpiji, krisis listrik dan terputus komunikasi karena jaringan bermasalah.

Untuk beberapa hari saat bencana banjir di luar Banda Aceh dan Aceh Besar, pemandangan warga antrean berjam-jam hanya untuk mengisi BBM di kendaraanya di SPBU, jadi panorama yang menyesakkan pascahujan deras berhari-hari.

Selain itu, harga bahan kebutuhan sehari-hari seperti daging ayam, telur ayam, dan cabai merah, berada di atas rata-rata normal karena tidak bisa dipasok dari Medan, menyusul terputusnya jembatan vital di jalan transumatera akibat bencana banjir.

Aceh Tamiang, yang merupakan kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Utara, ditetapkan sebagai daerah terparah dalam bencana hidrometeorologi ini.

Tak kala hujan mereda, air pun surut.

Namun itu belum menyelesaikan masalah.

Di sejumlah lokasi memunculkan persoalan baru, seperti di Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Bireuen dan Aceh Timur, Aceh Tengah, Bener Meriah berupa rendamar lumpur.

Masjid, mushalla, rumah, tempat usaha, gedung sekolah dan puskesmas serta infrastruktur publik lainnya, terendam lumpur.

Ladang dan sawah pun tak lagi berbatas karena tertimbun lumpur yang terbawa bersama air bah.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved