Opini
Duka Aceh di Antara Air Asin dan Air Tawar
Mirisnya, ada kayu yang panjangnya berkisar 4 atau 5 meter dan bernomor yang menunjukkan kayu-kayu itu terindikasi ada pemiliknya
Perih mata pun bertambah, selain air dan lumpur.
Tatkala air surut, tumpukan kayu gelondongan menutupi lahan.
Mirisnya, ada kayu yang panjangnya berkisar 4 atau 5 meter dan bernomor yang menunjukkan kayu-kayu itu terindikasi ada pemiliknya atau bukan harta yang tak bertuan.
Banyak komentar dan pendapat publik, bahwa banjir dan tanah longsor di Aceh itu selain tingginya intensitas hujan juga akibat deforestasi atau hilangnya tutupan hutan secara permanen.
Deforestasi biasanya akibat aktivitas manusia seperti penebangan pohon untuk lahan pertanian, pertambangan, atau pembangunan infrastruktur, yang mengubah hutan menjadi lahan non-hutan.
Terlepas dari penyebab banjir dan longsor yang memang kenyataannya membawa tumpukan kayu dan lumpur yang merendam, namun diperlukan langkah-langkah hukum dari aparat berwenang untuk melakukan penyelidikan.
Yang jelas, diyakini atau tidak, pasti ada pihak tertentu yang mulai gusar sebab akan menghadapi konsekuensi hukum karena perbuatannya telah menyebabkan hutan gundul dan memicu bencana dashyat dan masyarakat jadi korban.
Mari kita tunggu kerja keras aparat penegak hukum untuk mengusut siapa pemilik kayu-kayu gelondongan yang sudah bernomor itu, material yang terbawa derasnya air bah dan lumpur yang merendam pemukiman penduduk di sejumlah daerah di Aceh.
*) PENULIS adalah salah satu wartawan peliput konflik, damai, tsunami, dan rehab-rekon Aceh, juga mantan Kepala Biro Antara Aceh, serta eks Sekretaris Perum LKBN ANTARA.
Isi artikel dalam rubrik Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/azhari-antara-2025.jpg)