Rabu, 22 April 2026

KUPI BEUNGOH

Ujian Terus Menghampiri, Mungkinkah Aceh Tanah "Suci"?

Sejarah Aceh tidak hanya diwarnai oleh konflik dan peperangan, tetapi juga oleh derap bencana alam yang datang silih berganti.

Editor: Yocerizal
Serambinews.com
Zahrul Fadhi Johan, alumni Magister Ilmu Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan saat ini menjabat sebagai Anggota Bawaslu Kota Banda Aceh (Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran dan Penyelesaian Sengketa). 

Oleh : Zahrul Fadhi Johan *)

Rentetan demi rentetan, tanah Aceh kerap diuji oleh peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang sendi kehidupan. 

Sejarah Aceh tidak hanya diwarnai oleh konflik dan peperangan, tetapi juga oleh derap bencana alam yang datang silih berganti.

Beragam catatan, tulisan dan informasi baik dalam bentuk naskah akademik, hikayat, tradisi tutur, maupun tulisan populer di berbagai platform media telah tersaji dengan utuh tentang bencana alam dari suatu masa ke masa lainnya. 

Banjir dan tanah longsor seakan sudah menjadi siklus tahunan, angin kencang dan puting beliung, wabah penyakit, kekeringan berkepanjangan, hingga gempa dan tsunami, semuanya pernah singgah dan meninggalkan jejak duka dan luka yang mendalam.

Beragam bencana itu hadir kadang tanpa jeda, kadang terpisah oleh waktu dan lokasi, terkadang datang bersamaan, seakan menguji batas kemampuan manusia. 

Dari hulu hingga hilir, dari pelosok desa hingga pusat kota, hampir tidak ada jengkal tanah Aceh yang luput dari sentuhan musibah. 

Puncaknya pada 26 November 2025, ketika peristiwa hidrometeologi memicu banjir bandang yang menerjang hampir seluruh kabupaten dan kota di Aceh. 

Ujian demi ujian datang bertubi-tubi, memaksa masyarakat Aceh untuk belajar menjadi kuat, bertahan dalam keterbatasan, serta menafsirkan kembali makna ketabahan dan kesabaran agar bangkit dari puing-puing kehancuran.

Logika Spiritual dan Fakta Alam

Mengapa Aceh melulu? Apakah penduduknya begitu zalim sehingga Tuhan kerap mengujinya, atau justru karena Aceh adalah tanah “suci”, yang dijuluki Serambi Mekkah (Serambi 'Suci"), atau serambi yang dimuliakan? 

Pertanyaan semacam ini hampir selalu muncul setiap kali bencana alam melanda Aceh. 

Baca juga: 2.500 Warga Bener Meriah Mengungsi Dampak Aktivitas Burni Telong Meningkat, BNPB Salurkan Bantuan

Baca juga: BPJN Aceh Pulihkan Jalan Sp Uning–Owaq, Akses Aceh Tengah–Gayo Lues Kembali Terbuka

Pertanyaan tersebut sejatinya dapat dipahami melalui dua sudut pandang yang saling berkelindan, yakni logika spiritual dan fakta ekologis. 

Dalam perspektif Islam, bencana alam tidak selalu hadir sebagai hukuman, melainkan bisa menjadi peringatan, ujian, atau akibat langsung dari ulah manusia sendiri, kerena kezaliman terhadap sesama dan alam.

Serta usia dunia yang kian menua di akhir zaman, kerap disebut sebagai faktor yang membuka pintu datangnya bala dan marabahaya.

Sebagaimana firman Allah SWT: "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Qs. Ar - Rum : 41). 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved