KUPI BEUNGOH
Ujian Terus Menghampiri, Mungkinkah Aceh Tanah "Suci"?
Sejarah Aceh tidak hanya diwarnai oleh konflik dan peperangan, tetapi juga oleh derap bencana alam yang datang silih berganti.
Oleh : Zahrul Fadhi Johan *)
Rentetan demi rentetan, tanah Aceh kerap diuji oleh peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang sendi kehidupan.
Sejarah Aceh tidak hanya diwarnai oleh konflik dan peperangan, tetapi juga oleh derap bencana alam yang datang silih berganti.
Beragam catatan, tulisan dan informasi baik dalam bentuk naskah akademik, hikayat, tradisi tutur, maupun tulisan populer di berbagai platform media telah tersaji dengan utuh tentang bencana alam dari suatu masa ke masa lainnya.
Banjir dan tanah longsor seakan sudah menjadi siklus tahunan, angin kencang dan puting beliung, wabah penyakit, kekeringan berkepanjangan, hingga gempa dan tsunami, semuanya pernah singgah dan meninggalkan jejak duka dan luka yang mendalam.
Beragam bencana itu hadir kadang tanpa jeda, kadang terpisah oleh waktu dan lokasi, terkadang datang bersamaan, seakan menguji batas kemampuan manusia.
Dari hulu hingga hilir, dari pelosok desa hingga pusat kota, hampir tidak ada jengkal tanah Aceh yang luput dari sentuhan musibah.
Puncaknya pada 26 November 2025, ketika peristiwa hidrometeologi memicu banjir bandang yang menerjang hampir seluruh kabupaten dan kota di Aceh.
Ujian demi ujian datang bertubi-tubi, memaksa masyarakat Aceh untuk belajar menjadi kuat, bertahan dalam keterbatasan, serta menafsirkan kembali makna ketabahan dan kesabaran agar bangkit dari puing-puing kehancuran.
Logika Spiritual dan Fakta Alam
Mengapa Aceh melulu? Apakah penduduknya begitu zalim sehingga Tuhan kerap mengujinya, atau justru karena Aceh adalah tanah “suci”, yang dijuluki Serambi Mekkah (Serambi 'Suci"), atau serambi yang dimuliakan?
Pertanyaan semacam ini hampir selalu muncul setiap kali bencana alam melanda Aceh.
Baca juga: 2.500 Warga Bener Meriah Mengungsi Dampak Aktivitas Burni Telong Meningkat, BNPB Salurkan Bantuan
Baca juga: BPJN Aceh Pulihkan Jalan Sp Uning–Owaq, Akses Aceh Tengah–Gayo Lues Kembali Terbuka
Pertanyaan tersebut sejatinya dapat dipahami melalui dua sudut pandang yang saling berkelindan, yakni logika spiritual dan fakta ekologis.
Dalam perspektif Islam, bencana alam tidak selalu hadir sebagai hukuman, melainkan bisa menjadi peringatan, ujian, atau akibat langsung dari ulah manusia sendiri, kerena kezaliman terhadap sesama dan alam.
Serta usia dunia yang kian menua di akhir zaman, kerap disebut sebagai faktor yang membuka pintu datangnya bala dan marabahaya.
Sebagaimana firman Allah SWT: "Telah nyata kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Qs. Ar - Rum : 41).
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zahrul-Fadhi-Johan_ok.jpg)