Selasa, 16 Juni 2026

Kupi Beungoh

Bencana Siklon Senyar Sumatra 2025: Duka Lintas Agama, Etnik, dan Asa di Tahun 2026

Di tengah duka, muncul cahaya solidaritas dari respons kemanusiaan lintas batas

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com
Wildia Ulfita, Mahasiswi Prodi KPI FDK UIN Ar-Raniry 

Oleh: Wildia Ulfita

Banjir bandang bernama Siklon Senyar yang menerjang Aceh dan Sumatra pada November 2025 bukan sekadar bencana alam. Ia adalah ujian kemanusiaan yang menguji solidaritas kita sebagai bangsa.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh di Kantor Kesbangpol Aceh pada Rabu (31/12/2025). Semua tokoh agama hadir dalam diskusi yang dipandu Budayawan Tarmizi A Hamid ini. 

Peserta diskusi sepakat bahwa bencana ini tidak membedakan agama, suku, atau latar belakang sosial seseorang.

Dari sisi agama, korban datang dari berbagai kelompok Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha yang ada di Aceh.

Dari sisi etnik, ada suku Aceh, Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Tionghoa, dan lainnya yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari mosaik kehidupan di Aceh.

Solidaritas Lintas Batas

Di tengah duka, muncul cahaya solidaritas dari respons kemanusiaan lintas batas. NU, Muhammadiyah, gereja-gereja ekumenis, komunitas Katolik, dan organisasi sipil lainnya bahu-membahu mengirim bantuan berupa pakaian baru, obat-obatan, kompor gas, rice cooker, serta perlengkapan sanitasi, terutama untuk perempuan dan anak-anak yang rentan. 

Dan mereka yang menerima bantuan tidak bertanya: “Agama kalian apa?” atau “Dari mana suku kalian?”.

Mereka hanya menerima apa yang diberikan di tengah kondisi yang membutuhkan.

Seorang narasumber dari komunitas Kristen di Aceh mengungkapkan dengan tulus: “Kami juga merasa teriris. Bencana ini bukan hanya milik satu kelompok.”

Mereka bahkan menggelar ibadah Natal secara sederhana dan mengalihkan anggarannya untuk bazar bagi korban banjir, tanpa memandang latar belakang penerima.

Gereja-gereja menyalurkan donasi melalui Bimas Kristen, PGI, dan jaringan lokal, termasuk mengirim 3 ton logistik ke daerah terdampak. Ini bukan sekadar amal, ini pernyataan moral kemanusiaan lebih tinggi dari identitas.   

Framing Negatif

Namun hal ini menjadi sebuah framing negatif. Aceh dianggap hanya memiliki satu agama dan satu suku saja. Padahal di Aceh tidak hanya terdapat suku Aceh sendiri ataupun agama Islam saja.

Dengan framing kebenaran yang seharusnya ditekankan adalah bahwa  Aceh rumah bagi semua, tanpa pembatasan agama dan etnis.

Selain itu, muncul juga framing negatif di tengah bencana banjir bandang dan longsor ini di media sosial. Ketika Provinsi Aceh mencoba untuk memberikan kabar kebenaran yang terjadi di lapangan dengan memunculkan kondisi sebenarnya separah apa, dan penanganan yang seperti apa yang harus dilakukan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
Live
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
VS
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
VS
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved