Kupi Beungoh
Bencana Siklon Senyar Sumatra 2025: Duka Lintas Agama, Etnik, dan Asa di Tahun 2026
Di tengah duka, muncul cahaya solidaritas dari respons kemanusiaan lintas batas
Oleh: Wildia Ulfita
Banjir bandang bernama Siklon Senyar yang menerjang Aceh dan Sumatra pada November 2025 bukan sekadar bencana alam. Ia adalah ujian kemanusiaan yang menguji solidaritas kita sebagai bangsa.
Dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh di Kantor Kesbangpol Aceh pada Rabu (31/12/2025). Semua tokoh agama hadir dalam diskusi yang dipandu Budayawan Tarmizi A Hamid ini.
Peserta diskusi sepakat bahwa bencana ini tidak membedakan agama, suku, atau latar belakang sosial seseorang.
Dari sisi agama, korban datang dari berbagai kelompok Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha yang ada di Aceh.
Dari sisi etnik, ada suku Aceh, Melayu, Jawa, Sunda, Batak, Tionghoa, dan lainnya yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari mosaik kehidupan di Aceh.
Solidaritas Lintas Batas
Di tengah duka, muncul cahaya solidaritas dari respons kemanusiaan lintas batas. NU, Muhammadiyah, gereja-gereja ekumenis, komunitas Katolik, dan organisasi sipil lainnya bahu-membahu mengirim bantuan berupa pakaian baru, obat-obatan, kompor gas, rice cooker, serta perlengkapan sanitasi, terutama untuk perempuan dan anak-anak yang rentan.
Dan mereka yang menerima bantuan tidak bertanya: “Agama kalian apa?” atau “Dari mana suku kalian?”.
Mereka hanya menerima apa yang diberikan di tengah kondisi yang membutuhkan.
Seorang narasumber dari komunitas Kristen di Aceh mengungkapkan dengan tulus: “Kami juga merasa teriris. Bencana ini bukan hanya milik satu kelompok.”
Mereka bahkan menggelar ibadah Natal secara sederhana dan mengalihkan anggarannya untuk bazar bagi korban banjir, tanpa memandang latar belakang penerima.
Gereja-gereja menyalurkan donasi melalui Bimas Kristen, PGI, dan jaringan lokal, termasuk mengirim 3 ton logistik ke daerah terdampak. Ini bukan sekadar amal, ini pernyataan moral kemanusiaan lebih tinggi dari identitas.
Framing Negatif
Namun hal ini menjadi sebuah framing negatif. Aceh dianggap hanya memiliki satu agama dan satu suku saja. Padahal di Aceh tidak hanya terdapat suku Aceh sendiri ataupun agama Islam saja.
Dengan framing kebenaran yang seharusnya ditekankan adalah bahwa Aceh rumah bagi semua, tanpa pembatasan agama dan etnis.
Selain itu, muncul juga framing negatif di tengah bencana banjir bandang dan longsor ini di media sosial. Ketika Provinsi Aceh mencoba untuk memberikan kabar kebenaran yang terjadi di lapangan dengan memunculkan kondisi sebenarnya separah apa, dan penanganan yang seperti apa yang harus dilakukan.
| Alue Naga: Menemukan Ketenangan dalam Kesederhanaan |
|
|---|
| Refleksi Lima Tahun Blok B: Saatnya Aceh Menuntut Trasparansi dan Keadilan Distributif |
|
|---|
| Pelajaran Tangkulo dari Kebun Pak Yusuf |
|
|---|
| Merawat Identitas Serambi Mekkah di Tengah Arus Modernisasi |
|
|---|
| Penundaan Persetujuan PoD I Gubernur Aceh: Antara Romantisme Sejarah dan Realisme Investasi Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Wildia-Ulfita-Mahasiswi-Prodi-KPI-FDK-UIN-Ar-Raniry.jpg)