KUPI BEUNGOH
Aceh, Banjir Bandang, dan Krisis Tata Kelola Lingkungan
Hutan Aceh hari ini seolah memperlihatkan wajah asli dari lemahnya pengelolaan dan pengawasan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Oleh: Miftahul Jannah, SKM., MKM *)
HUTAN Aceh hari ini seolah memperlihatkan wajah asli dari lemahnya pengelolaan dan pengawasan lingkungan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Di balik luas kawasan hutan yang mencapai sekitar 3,55 juta hektare, tersimpan potensi besar sebagai penopang keseimbangan kehidupan.
Namun, ketika fungsi tersebut diabaikan, yang muncul justru rangkaian persoalan ekologis yang berujung pada penderitaan masyarakat.
Jika hutan benar-benar dijaga dan dikelola secara berkelanjutan, sungai akan mengalir jernih tanpa membawa batang-batang kayu, banjir bandang menjadi peristiwa langka, dan tanah di kawasan pegunungan tetap kokoh menahan erosi.
Bahkan ketika curah hujan tinggi terjadi, aliran air tidak akan sedemikian destruktif.
Namun realitas menunjukkan hal sebaliknya. Sungai berubah menjadi jalur pembawa ribuan kayu besar hasil penebangan, banjir bandang menyapu dan mengubur rumah-rumah warga.
Semua ini menegaskan bahwa bencana yang terjadi bukan semata akibat faktor alam, melainkan buah dari kerusakan hutan.
Situasi ini mencerminkan ketidakadilan ekologis. Keuntungan dinikmati segelintir pihak, sementara risikonya dibebankan kepada masyarakat yang tidak memiliki kuasa atas keputusan pengelolaan alam, namun dipaksa menanggung dampaknya.
Deforestasi Memicu Bencana Maut
Pada akhir tahun 2025, masyarakat Aceh kembali berduka akibat banjir bandang yang membawa ribuan kayu gelondongan besar—bahkan sebagian telah diberi tanda angka, seolah memiliki pemilik.
Baca juga: Pelajaran dari “Sabotase Baut Jembatan”
Baca juga: Tol Sigli-Banda Aceh Dibuka 24 Jam hingga 22 Januari 2026 untuk Dukung Distribusi Bantuan
Bencana ini tidak hanya melanda Aceh, tetapi juga berdampak pada dua provinsi lainnya, yaitu Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Sepanjang beberapa dekade terakhir, banjir bandang ini tercatat sebagai salah satu yang paling besar dampaknya. Jumlah korban meninggal mencapai 1.178 jiwa, dengan jumlah tertinggi di Aceh.
Sementara itu, jumlah pengungsi di Aceh mencapai 217.780 jiwa. Ratusan nyawa melayang, ribuan orang bertahan di pengungsian dalam ketidakpastian bantuan.
Lahan pertanian berubah menjadi hamparan pasir, ribuan rumah lenyap, dan ironisnya, sebanyak 22 desa dan dusun di Aceh hilang diterjang banjir bandang.
Perlindungan Hutan yang Hilang
Banjir yang membawa gelondongan kayu secara terang-benderang menunjukkan hilangnya fungsi ekologis hutan sebagai pelindung dari bencana.
Banjir Bandang Aceh
Kayu bekas banjir
Banjir Aceh-Sumatra
Banjir dan Kerusakan Hutan Aceh
Tata Kelola Lingkungan
Opini Miftahul Jannah
Opini Kupi Beungoh Miftahul Jannah
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
| Perang dan Damai – Bagian 11, Pertemuan Islamabad Jilid Dua, Menuju Perdamian |
|
|---|
| 821 Tahun Banda Aceh : Menghidupkan Kembali Semangat Kota Tamaddun Kekinian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Miftahul-Jannah_ok.jpg)