Minggu, 31 Mei 2026

Pojok Humam Hamid

Aceh, Rusia, dan Tentara Bayaran: Muhammad Rio vs Hans Christoffel

Christoffel adalah produk sistem kolonial yang melegitimasi perang bayaran, sementara Muhammad Rio adalah produk globalisasi konflik

Tayang:
Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. 

Tidak ada catatan sejarah tentang prajurit Aceh yang disewakan ke kerajaan asing demi bayaran. 

Aceh tidak mengekspor pasukan, dan tidak pula menggantungkan pertahanannya pada tentara bayaran profesional. 

Ini adalah karakter unik Aceh dalam sejarah: kedaulatan militer dijaga dari dalam, bukan dari jasa profesional eksternal.

Baca juga: Perang Aceh: Islam versus Barat?

Tentara Bayaran Belanda dalam Perang Aceh

Kontras tajam muncul ketika Belanda menjalankan proyek kolonialnya di Aceh pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. 

Untuk menundukkan perlawanan rakyat Aceh yang panjang dan brutal, Belanda mengandalkan pasukan kolonial KNIL yang diisi oleh prajurit lokal non-Aceh serta perwira Eropa, termasuk “mercenary” dari luar Belanda. 

Salah satu figur paling fenomenal adalah Hans Christoffel.

Hans Christoffel lahir di Rothenbrunnen, Swiss, pada 13 September 1865. 

Ia bergabung dengan KNIL pada 1886 dan dikenal sebagai perwira kontra-gerilya yang efektif. 

Christoffel memimpin operasi di medan hutan dan pegunungan Aceh, memburu tokoh-tokoh perlawanan, dan menjalankan strategi represif yang keras. 

Dalam arsip kolonial Belanda, ia dipuji sebagai perwira berani dan disiplin.

Namun dari perspektif Aceh, Christoffel adalah representasi klasik “mercenary” kolonial. 

Ia bukan orang Belanda, bukan pula bagian dari masyarakat yang ditaklukkannya. 

Loyalitasnya dijaga oleh gaji, pangkat, dan kepentingan imperium. Aceh bukan tanah airnya, dan perang itu bukan perang eksistensial baginya. 

Ia adalah prajurit profesional yang bekerja untuk mesin kolonial.

Baca juga: Sosok Bripda Muhammad Rio, Anggota Brimob Polda Aceh Diduga Jadi Tentara Bayaran Rusia

Muhammad Rio, Fenomena “Mercenary” Modern

Lebih dari satu abad kemudian, nama lain muncul dari Aceh dalam konteks yang sama sekali berbeda: Muhammad Rio

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved