Jurnalisme Warga
Makam Syahid Lapan, Antara Ziarah dan Ingatan Sejarah
Letaknya yang strategis membuat makam ini mudah diakses, sering disinggahi, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya.
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Bireuen
BAGI masyarakat Aceh, terutama mereka yang kerap melintasi jalur Banda Aceh–Medan, Makam Syahid Lapan bukanlah tempat yang asing. Ia berdiri tepat di pinggir jalan lintas nasional, di Cot Batee Geulungku, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, sekitar 37 kilometer dari pusat kota kabupaten.
Letaknya yang strategis membuat makam ini mudah diakses, sering disinggahi, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya.
Setiap hari, arus kendaraan melintas tanpa henti. Sebagian pengendara berhenti sejenak untuk berdoa, bersedekah, atau menunaikan nazar. Di sekitar makam berdiri warung-warung kecil yang menjajakan pulut ijo khas Simpang Mamplam, kuliner lokal yang telah lama menjadi bagian dari kebiasaan singgah di kawasan tersebut.
Di seberang jalan, sebuah masjid menjadi tempat beristirahat bagi para pelintas. Di tengah aktivitas itu, Makam Syahid Lapan tetap berdiri tenang, menyimpan kisah sejarah yang jauh lebih besar daripada hiruk-pikuk di sekelilingnya.
Makam ini dinamakan Makam Syahid Lapan karena di dalamnya dimakamkan delapan pejuang Aceh yang gugur dalam perlawanan melawan kolonial Belanda pada awal tahun 1902.
Mereka adalah Tgk Panglima Prang Rayeuk Jurong Binje, Tgk Muda Lem Mamplam, Tgk Nyak Balee Ishak Blang Mane, Tgk Meureudu Tambue, Tgk Balee Tambue, Apa Syekh Lancok Mamplam, Muhammad Sabi Blang Mane, dan Nyak Ben Matang Salem Blang Teumulek.
Delapan nama ini tidak sekadar tercantum di dinding makam, tetapi juga merepresentasikan keberanian rakyat Aceh di lereng Bukit Simpang Mamplam dalam menghadapi kekuatan kolonial.
Kisah heroisme Syahid Lapan terabadikan secara jelas pada dinding makam. Peristiwa tersebut terjadi ketika delapan pejuang Aceh mengadang pasukan marsose Belanda yang berjumlah 24 orang.
Marsose merupakan pasukan elite kolonial yang dilengkapi senjata api dan dilatih secara khusus.
Sementara itu, delapan pejuang Aceh hanya berbekal pedang. Namun, ketimpangan kekuatan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk bertahan dan melawan.
Pertempuran berlangsung singkat, tetapi menentukan. Di luar perkiraan, delapan pejuang Aceh berhasil menewaskan seluruh pasukan marsose. Senjata-senjata milik Belanda kemudian dikumpulkan.
Kemenangan itu menjadi momen yang jarang terjadi dalam situasi perang yang serbatidak seimbang. Namun, euforia kemenangan justru membuka celah yang berakibat fatal.
Tanpa disadari, pasukan bantuan marsose datang dari arah Jeunieb. Serangan balasan pun dilakukan secara tiba-tiba dan brutal. Delapan pejuang Aceh tersebut tidak sempat mengatur pertahanan ulang. Mereka gugur bersimbah darah, mengakhiri perlawanan yang sebelumnya memberi harapan besar bagi rakyat di sekitar Simpang Mamplam.
Kebrutalan pasukan marsose tidak berhenti pada gugurnya delapan pejuang Aceh tersebut. Setelah menyadari bahwa 24 anggotanya tewas di tangan pejuang yang hanya bersenjatakan pedang, kemarahan marsose berubah menjadi tindakan keji yang mencederai nilai kemanusiaan. Jasad para pejuang yang telah tak bernyawa itu dicincang menggunakan pedang mereka sendiri. Tubuh-tubuh itu diperlakukan dengan tanpa hormat, seolah penjajah hendak menghapus jejak perlawanan sekaligus merendahkan martabat orang-orang yang telah memilih mati daripada tunduk kepada penjajah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FAISAL-ST-MPd-BANDA-ACEH.jpg)