Kamis, 14 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Makam Syahid Lapan, Antara Ziarah dan Ingatan Sejarah

Letaknya yang strategis membuat makam ini mudah diakses, sering disinggahi, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh maknanya.

Tayang:
Editor: mufti
IST
FAISAL, S.T., M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok dan Ketua IGI Daerah Aceh Timur, melaporkan dari Bireuen 

Potongan-potongan tubuh para syuhada itu kemudian dikumpulkan dan dikuburkan dalam satu liang. Tidak ada pemisahan, tidak ada penanda, dan tidak ada penghormatan. Tindakan ini bukan semata luapan emosi sesaat, melainkan bagian dari politik teror kolonial.

Belanda ingin menanamkan ketakutan, menunjukkan bahwa perlawanan akan dibayar dengan kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan.

Namun, sejarah mencatat, strategi itu tidak pernah benar-benar berhasil. Kekejaman tersebut justru menyebar sebagai cerita perlawanan dari satu gampong ke gampong lain. Cara para pejuang itu diperlakukan setelah gugur mempertegas watak penjajahan yang ditentang rakyat Aceh. Alih-alih memadamkan keberanian, teror itu justru membentuk kesadaran kolektif bahwa penjajahan adalah ketidakadilan yang wajib dilawan, sekalipun dengan risiko kehilangan nyawa.

Dalam pandangan masyarakat Aceh, kematian para syuhada tidak menandai kekalahan. Liang kubur bersama di Cot Batee Geulungku itu justru menjadi simbol pengorbanan yang melampaui zaman. Di sanalah keberanian dirawat dalam ingatan dan di sanalah kekerasan kolonial kehilangan maknanya.

Kini, Makam Syahid Lapan menjadi salah satu situs sejarah yang ramai diziarahi. Masyarakat ada yang datang untuk “peuglah kaoy” atau melepas nazar.

Di depan makam tersedia celengan beton berbentuk miniatur rumah sebagai tempat sedekah. Aktivitas ini telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari praktik sosial masyarakat setempat.

Menurut sseorang penjaga makam, Tgk Abdullah, tidak semua peziarah memahami sejarah di balik makam tersebut.

“Banyak yang datang bernazar, tetapi tidak sedikit yang belum tahu kisah delapan syuhada ini. Padahal, yang paling penting adalah memahami perjuangan mereka, bukan sekadar berharap pada tempatnya,” ujarnya Tgk Abdullah.

Menurutnya, Makam Syahid Lapan seharusnya diposisikan sebagai ruang edukasi sejarah lokal.

“Kalau generasi muda hanya mengenal makam ini sebagai tempat minta hajat, maka nilai perjuangannya akan hilang. Mereka ini berperang dengan pedang melawan senjata api. Itu pelajaran tentang keberanian dan keyakinan,” katanya.

Keunikan lain dari makam ini adalah keberadaan pohon “hasan teungeut” yang menaunginya. Menjelang senja, daun-daun pohon tersebut menguncup dengan sendirinya, lalu kembali mekar keesokan pagi.

Meski usianya lebih muda dari makam, pohon itu tumbuh kokoh hingga kini. Bagi warga sekitar, pohon tersebut menjadi simbol keterhubungan antara alam, waktu, dan pengorbanan manusia.

Kisah Syahid Lapan tidak dapat dilepaskan dari konteks besar Perang Aceh melawan Belanda. Setelah agresi Belanda pada tahun 1873 gagal dan Jenderal JHR Kohler tewas di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, perlawanan rakyat Aceh justru semakin meluas. Meski Belanda berhasil menduduki pusat Kerajaan Aceh dan memproklamasikan penghapusan kekuasaan sultan, daerah-daerah lain tetap melakukan perlawanan frontal.

Aceh tidak pernah sepenuhnya tunduk. Ulama, uleebalang, dan rakyat bersatu dalam perang panjang yang disemangati hikayat-hikayat “Prang Sabi”. Perlawanan tersebut berlangsung hingga menjelang kedatangan Jepang pada 1942. Dalam konteks inilah, kisah Syahid Lapan menemukan maknanya sebagai bagian dari mozaik besar sejarah perlawanan Aceh.

Hari ini, Makam Syahid Lapan berdiri sebagai pengingat bahwa sejarah Aceh tidak hanya ditulis di pusat kekuasaan, tetapi juga di pinggir jalan, di lereng bukit, dan di liang kubur para pejuang.

Ia tidak menuntut untuk disakralkan, melainkan untuk dipahami. Sebab, selama kisahnya terus diceritakan dan nilai pengorbanannya dipelihara, delapan syuhada itu tetap hidup dalam kesadaran sejarah Aceh.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved