Senin, 11 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Mengapa Universitas Jabal Ghafur Tak Lagi Maju?

Unigha didirikan pada 1982 oleh almarhum Nurdin Abdurrahman (Nurdin AR),  yang kala itu menjabat Bupati Pidie.

Tayang:
Editor: mufti
IST
ABDUL HAMID, M.Pd., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Sigli, Pidie 

ABDUL HAMID, M.Pd., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen, melaporkan dari Sigli, Pidie

Universitas Jabal Ghafur (Unigha) di Gle Gapui, Kabupaten Pidie, lahir dari semangat gotong royong masyarakat. Kampus ini bukan dibangun dari modal besar atau investor kuat, melainkan dari botol limun, botol sirop, sumbangan seadanya, dan keikhlasan rakyat Pidie sejak awal 1980-an.

Saat itu, Unigha bukan hanya tempat kuliah. Ia adalah simbol kebanggaan dan harapan. Masyarakat merasa memiliki. Ada rasa ikut membangun dan menjaga.

Unigha didirikan pada 1982 oleh almarhum Nurdin Abdurrahman (Nurdin AR),  yang kala itu menjabat Bupati Pidie.

Awalnya berstatus STKIP, lalu berkembang menjadi universitas dengan beberapa fakultas, termasuk fakultas hukum yang berdiri pada 21 Juni 1986.

Dari rahim Unigha pula kemudian lahir sejumlah perguruan tinggi swasta lain di Aceh.

Pada masa jayanya, nama Pidie ikut terangkat. Mahasiswa datang  ke kampus ini dari berbagai daerah di Aceh, bahkan dari Malaysia. Gle Gapui hidup. Ekonomi bergerak. Kampus menjadi pusat aktivitas intelektual dan sosial.

Namun, kondisi itu kini tinggal kenangan. Pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat sederhana, tapi menyesakkan: mengapa Unigha tak lagi berkembang?

Pendiri wafat, konflik muncul Wafatnya Nurdin AR menjadi titik balik penting dalam perjalanan Unigha. Sosok pemersatu itu tak tergantikan. Sejak saat itu, konflik internal perlahan muncul dan tak kunjung selesai.

Yayasan Pembangunan Kampus Jabal Ghafur (YPKJG) yang menaungi Unigha kerap dilanda persoalan. Pergantian kepengurusan, tarik-menarik kepentingan, hingga konflik terbuka menjadi cerita yang berulang.

Di tingkat universitas, persoalan pergantian rektor juga tak pernah benar-benar tenang.

Energi kampus yang seharusnya difokuskan pada peningkatan mutu akademik, justru habis untuk mengurus konflik.

Demo terus berulang

Demonstrasi mahasiswa di Unigha nyaris menjadi agenda rutin. Lebih ironis lagi, aksi-aksi ini sering terjadi menjelang penerimaan mahasiswa baru.

Perlu ditegaskan, demo mahasiswa bukanlah akar masalah. Ia hanyalah gejala. Tanda bahwa ada yang tidak beres dalam manajemen, komunikasi yang tersumbat, dan transparansi yang lemah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved