KUPI BEUNGOH
Merawat Semangat Beut - Seumeubeut
Meskipun kita tahu bahwa di balik senyum tersebut mungkin ada perasaan-perasaan sedih dalam hati terdalamnya.
Sedangkan puncak dari sistem Beut-Seumeubeut adalah dayah.
Di dayah santri mempelajari berbagai disiplin ilmu agama.
Adapun tradisi beut-seumeubeut di dayah secara teknis dapat dijelaskan bahwa para santri duduk dalam satu halaqah, di mana guru akan duduk di tengah.
Pada tingkatan ini proses pembelajaran juga secara talaqqi dan syafahi. Sedangkan ketika menjadi dewan guru maka akan berubah dengan metode muzakarah dan mubahasah.
Beut-Seumeubeut dari Masa ke Masa
Beut-Seumeubeut merupakan salah satu tradisi pendidikan Islam yang berlaku sejak masa lampau.
Konsep pembelajaran ini lah yang diterapkan oleh Abon Abdul Aziz selama menjadi pimpinan dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Abon bergelar Al-Mantiqi.
Gelar ini deiberikan kepada Abon karena Abon memiliki spesialis khusus dan kedalaman dalam fan ilmu Manthiq.
Abon selalu berpesan kepada murid-muridnya untuk tidak meninggalkan beut-seumeubeut kapan pun dan di mana pun kita berada, dan bagaimana pun posisi dalam masyarakat. Hal tersebut harus selalu diprioritaskan.
Nasehat ini terus menerus Abon sampaikan hingga sangat melekat di hati murid-muridnya.
Hal ini terlihat dari salah satu murid Abon yang juga menjadi ulama yaitu Alm. Abu Usman bin Ali (kerap disapa dengan Abu Kuta Krueng).
Mengilas balik pembicaraan penulis dengan ananda perempuan Abu satu-satunya (biasa dipanggil Tu Mar di kompleks Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng).
Alm. Abu juga selalu berpesan kepada anak-anaknya “Jak u dayah jak beut, oh leuh ta beut, ta seumeubeut, walau Al-Qur`an jeut sit, yang penteng seumeubeut”.
Begitulah para ulama selalu mengingatkan anak-anak dan murid-muridnya untuk terus melestarikan beut-seumeubeut baik selama masih belajar di dayah mau pun ketika sudah kembali ke kampung halaman.
Meskipun hanya mengajar Iqra` dan yang kita ajar kan pun hanya keluarga di rumah. Yang perlu digaris bawahi adalah tetap beut-seumeubeut sepanjang hayat.
Transformasi Ruang Beut-Seumeubeut
Di zaman yang serba canggih ini semakin memudahkan kita untuk menyebarkan dakwah dan ajaran agama.
| JKA: Kepentingan Rakyat atau Kepentingan Elite? |
|
|---|
| Dam Haji: Mau Potong di Makkah atau Mudik ke Indonesia? |
|
|---|
| Aceh sebagai Episentrum Baru Pengetahuan Humaniora |
|
|---|
| Scopus, Sitasi, dan Martabat Ilmu di Kampus Aceh: Membaca Ulang Kupi Beungoh Prof. TMJ |
|
|---|
| Kebijakan Datang di Tengah Luka: Awai Buet Dudoe Pike, Teulah Akhe Keupeu Lom Guna |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Nauraul-Islamy-Anggota-DPP-ISAD-Aceh.jpg)