Sabtu, 9 Mei 2026

KUPI BEUNGOH

Merawat Semangat Beut - Seumeubeut

Meskipun kita tahu bahwa di balik senyum tersebut mungkin ada perasaan-perasaan sedih dalam hati terdalamnya.

Tayang:
Editor: Firdha Ustin
FOR SERAMBINEWS.COM
Nauraul Islamy, Anggota DPP ISAD Aceh, Guru MIN 5 Bireuen, dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya. 

Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah yang memiliki tradisi pendidikan Islam sejak masa kesultanan.

Beut-Seumeubeut merupakan salah satu istilah populer dalam kegiatan pendidikan agama di Aceh.  Kegiatan ini tumbuh atas dasar kesadaran masyarakat terhadap agama. 

 Beut-Seumeubeut terdiri dari dua kata yaitu “Beut” dan “Seumeubeut” yang berasal dari Bahasa Aceh artinya “belajar-mengajar”.

Tradisi beut-seumeubeut sudah berlangsung lintas generasi  dan menjadi pondasi utama dalam keberlangsungan pendidikan Islam di Aceh.

Dalam buku Filosofi Seumeubeut dalam Budaya Aceh yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Warul Walidin, AK, MA disebutkan bahwa pada masa kesultanan, Aceh memiliki struktur lembaga pendidikan yang jelas, mulai dari lingkungan keluarga, rumoh beut, meunasah, masjid, rangkang, dan dayah.

Semua tingkatan pembelajaran yang diajarkan saling berkesinambungan satu sama lain. 

Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mengajarkan dasar-dasar agama kepada anaknya.

Namun jika orang tua tidak mampu untuk mengajarkan sendiri, maka anak-anak akan diserahkan kepada rumoh beut.

Rumoh beut  merupakan lembaga pendidikan awal yang tersebar di desa-desa. Biasanya proses pembelajarannya secara talaqqi dan syafahi.

Di mana murid belajar langsung dari guru (teungku) melalui pendengaran dan pengulangan. 

Jenjang pendidikan berikutnya adalah masjid.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa masjid selalu berkaitan dengan pemukiman sekitarnya.

Di mana masjid berfungsi sebagai pusat segala aktivitas umat dalam satu mukim sebagaimana diatur dalam Qanun Meukuta Alam. 

Pun demikian, masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam. Di mana di masjid tersebut ada teungku yang mengajar.

Santri yang berasal dari daerah jauh biasanya tinggal di bilik-bilik sederhana yang dibangun di sekitar masjid (kerap disebut rangkang atau bale).

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved