Minggu, 12 April 2026

Jurnalisme Warga

Penguatan Tripusat Pendidikan sebagai Strategi Pemulihan Pendidikan Aceh Pascabencana

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan

Editor: mufti
Serambinews.com/HO/IST
Dr. H. KAMARUDDIN, S.Pd., M.M., Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), melaporkan dari Bireuen 

Dr. H. KAMARUDDIN, S.Pd., M.M., Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), melaporkan dari Bireuen

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan peradaban suatu daerah, bahkan negara.

Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga melalui sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat yang dikenal sebagai Tripusat Pendidikan.

Konsep ini menjadi semakin relevan dalam kondisi pendidikan Aceh saat ini, khususnya pascabencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang berdampak luas terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat.

Menjunjung kearifan lokal Dalam konteks Aceh yang menjunjung tinggi kearifan lokal dan penerapan syariat Islam, penguatan Tripusat Pendidikan harus didukung secara sistematis oleh pemerintah, lembaga pendidikan, dan peran aktif mahasiswa.

Keluarga sebagai pusat pendidikan pertama memiliki peran yang sangat fundamental dalam pembentukan karakter dan nilai keislaman anak. Pascabencana hidrometeorologi, banyak keluarga di Aceh mengalami tekanan ekonomi, kehilangan tempat tinggal, serta trauma psikologis. Kondisi ini akan berdampak pada berkurangnya perhatian orang tua terhadap

pendidikan anak. Padahal, dalam perspektif Islam, keluarga merupakan madrasah utama yang menanamkan nilai iman, akhlak, kesabaran, dan ketangguhan. Jika fungsi keluarga melemah, maka fondasi pendidikan anak menjadi rapuh.

Solusi yang dapat dilakukan adalah penguatan ketahanan keluarga melalui pendampingan psikososial, pendidikan ‘parenting’ islami, serta dukungan ekonomi berbasis pemberdayaan.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menyediakan program bantuan pendidikan, jaminan sosial, dan layanan pemulihan trauma bagi keluarga terdampak bencana.

Lembaga pendidikan dan tokoh agama juga dapat berkontribusi melalui pengajian keluarga, bimbingan keagamaan, dan edukasi nilai-nilai Islam yang kontekstual dengan kondisi pascabencana. Dengan demikian, keluarga tetap mampu menjalankan perannya sebagai pendidik utama meskipun berada dalam keterbatasan.

Sekolah sebagai pusat pendidikan kedua menghadapi tantangan yang tidak kalah berat pascabencana hidrometeorologi pada akhir November tahun lalu. Kerusakan prasarana dan sarana sekolah, terganggunya proses belajar-mengajar (PBM), serta menurunnya motivasi dan kondisi psikologis peserta didik menjadi persoalan nyata.

Dalam situasi ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pemulihan psikososial dan pembentukan karakter.

Peran lembaga pendidikan sangat krusial dalam memastikan keberlanjutan proses belajar. Sekolah dan madrasah di Aceh perlu mengembangkan model pembelajaran yang adaptif dan fleksibel, termasuk pemanfaatan ruang belajar alternatif seperti meunasah, balai gampong, atau sekolah darurat.

Kurikulum juga perlu diintegrasikan dengan pendidikan kebencanaan, nilai syariat Islam, serta kearifan lokal Aceh agar peserta didik memiliki kesadaran lingkungan, ketangguhan, dan tanggung jawab sosial.

Guru perlu dibekali pelatihan khusus terkait pendampingan psikososial dan pendidikan berbasis trauma agar mampu mendampingi  peserta didik secara holistik.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved