Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Penguatan Tripusat Pendidikan sebagai Strategi Pemulihan Pendidikan Aceh Pascabencana

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) dan keberlanjutan

Tayang:
Editor: mufti
Serambinews.com/HO/IST
Dr. H. KAMARUDDIN, S.Pd., M.M., Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki), melaporkan dari Bireuen 

Pemerintah memiliki peran strategis dalam mendukung pemulihan pendidikan melalui kebijakan yang responsif dan berkelanjutan. Pembangunan kembali sarana pendidikan yang rusak harus mengedepankan prinsip ramah bencana dan inklusif.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dinas pendidikan, dinas sosial, dan Lembaga keagamaan, agar pemulihan pendidikan berjalan secara terpadu.

Program beasiswa bagi siswa terdampak bencana, insentif bagi guru di daerah terdampak, serta dukungan anggaran

pendidikan menjadi langkah konkret dalam menjaga kualitas pendidikan Aceh.

Masyarakat sebagai pusat pendidikan ketiga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan sosial yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.

Dalam masyarakat Aceh, lembaga adat, masjid, meunasah, dan dayah merupakan ruang strategis dalam pembinaan nilai keislaman dan karakter sosial. 

Namun, pascabencana, fokus masyarakat sering tertuju pada pemulihan ekonomi sehingga perhatian terhadap pendidikan cenderung menurun.

Solusi yang dapat dilakukan adalah menghidupkan kembali peran lembaga sosial dan keagamaan sebagai pusat pendidikan berbasis komunitas.

Kegiatan keagamaan, gotong royong, dan program belajar bersama dapat menjadi sarana untuk memperkuat kembali nilai kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam pengawasan pendidikan anak agar terhindar dari perilaku menyimpang, terutama di tengah pengaruh negatif media dan teknologi.

Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan penggerak sosial. Mahasiswa dapat berkontribusi melalui kegiatan pengabdian masyarakat atau KKN tematik kebencanaan, sukarelawan pendidikan, pendampingan belajar, serta program literasi dan edukasi kebencanaan

di daerah terdampak.

Dengan latar belakang keilmuan dan semangat idealisme, mahasiswa dapat menjadi jembatan antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Keterlibatan mahasiswa dalam proses pemulihan pendidikan juga sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang kepedulian, pengabdian, dan tanggung jawab sosial.

Ketidakpedulian terhadap pendidikan pascabencana hidrometeorologi akan menimbulkan dampak jangka panjang yang serius. Meningkatnya angka putus sekolah, menurunnya kualitas SDM, serta melemahnya nilai syariat Islam dan kearifan lokal Aceh merupakan risiko nyata yang harus diantisipasi.

Oleh karena itu, sinergi Tripusat Pendidikan dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan mahasiswa menjadi solusi komprehensif dalam menjawab persoalan tersebut.

Lebih jauh, pendidikan harus diposisikan sebagai instrumen utama dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana di masa depan. Melalui pendidikan yang terintegrasi, generasi muda Aceh tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga sikap adaptif, kepedulian lingkungan, dan kesadaran akan mitigasi bencana. Kearifan lokal Aceh yang mengajarkan hidup selaras dengan alam serta nilai-nilai islami tentang menjaga keseimbangan dan amanah terhadap lingkungan perlu diinternalisasikan secara berkelanjutan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved