KUPI BEUNGOH
Sedekah Tak Kurangi Hartamu, Semakin Lepas Semakin Kaya
Mengapa melepaskan justru menghadirkan ketenangan? Mengapa memberi, yang tampaknya mengurangi, justru menumbuhkan rasa cukup?
Oleh: Dr. Muhammad Nasir*)
ADA satu rahasia hidup yang sering kita abaikan yaitu ketika tangan terbuka untuk memberi, jiwa justru terasa penuh. Ketika harta dilepas, hati malah terasa kaya.
Di tengah dunia yang mengajarkan menimbun demi rasa aman, jutaan orang justru memilih jalan sebaliknya. Mereka membayar zakat saat kebutuhan meningkat.
Mereka berbagi saat penghasilan terasa sempit. Mereka mewakafkan tanah dan uang ketika masa depan belum pasti. Secara matematis, harta berkurang. Namun secara batiniah, mereka bertambah.
Mengapa melepaskan justru menghadirkan ketenangan? Mengapa memberi, yang tampaknya mengurangi, justru menumbuhkan rasa cukup? Pertanyaan ini bukan sekadar refleksi spiritual.
Ia adalah paradoks besar yang menghubungkan wahyu, sejarah, psikologi modern, dan realitas sosial. Dunia membangun peradaban di atas akumulasi. Namun pengalaman manusia sepanjang zaman menunjukkan hukum berbeda: semakin dilepas, semakin bertambah.
Baca juga: Meugang di Tengah Derita: Ketika Rasa Syukur Bertemu Realita Pengungsian
Memberi bukan sekadar tindakan moral. Ia adalah energi yang menggerakkan peradaban. Ia adalah mekanisme yang menenangkan jiwa dan menguatkan solidaritas sosial.
Dari sumur yang diwakafkan oleh Utsman bin Affan yang manfaatnya mengalir berabad-abad lamanya, hingga wakaf produktif Syech Habib Bugak Al Asyi di Mekah yang hingga kini membantu jamaah haji asal Aceh, kita menyaksikan satu pola yang sama: harta yang dilepas dengan keikhlasan tidak pernah benar-benar hilang. Ia berubah menjadi berkah, menjadi ketenangan, menjadi peradaban.
Di titik inilah kita perlu bertanya ulang tentang makna kekayaan. Apakah ia sekadar angka dalam rekening, atau sesuatu yang lebih dalam dan lebih abadi?
Janji Pelipatgandaan: Ketika Wahyu Menegaskan
Al-Qur’an menegaskan bahwa sedekah bukan pengurangan, melainkan pelipatgandaan. Surah Al-Baqarah ayat 261 menggambarkan infak seperti benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, masing-masing berisi seratus biji.
Satu menjadi tujuh ratus. Ini bukan sekadar metafora agraris; ia adalah hukum spiritual tentang pertumbuhan nilai.
Baca juga: Jaminan Mahar Aceh: Ujian Syariah Saat Mahar Setara Mobil
Surah Al-Baqarah ayat 245 menyebut infak sebagai pinjaman baik kepada Allah yang akan dilipatgandakan. Surah Saba’ ayat 39 menegaskan apa yang diinfaqkan akan diganti. Sementara Surah Ali Imran ayat 92 menekankan bahwa kebajikan sejati hanya tercapai dengan menginfakkan apa yang paling kita cintai.
Hadis sahih riwayat Muslim menyatakan, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” Para ulama klasik memperdalam makna ini. Al-Ghazali melihat sedekah sebagai pembersih hati dari ketamakan.
Ibn Taymiyyah memandangnya sebagai sebab penjagaan Allah atas harta. Ibn Khaldun menunjukkan bagaimana solidaritas sosial memperkuat stabilitas ekonomi dan politik. Kekayaan sejati, dengan demikian, bukan sekadar akumulasi, melainkan keberkahan yang memperluas makna hidup.
Sains Modern: Memberi Menyehatkan Jiwa
Apa yang ditegaskan wahyu, kini dikuatkan sains. Penelitian Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton yang dipublikasikan dalam jurnal Current Directions in Psychological Science menunjukkan bahwa orang yang membelanjakan uang untuk orang lain melaporkan tingkat kebahagiaan lebih tinggi dibanding mereka yang membelanjakan untuk diri sendiri. Temuan ini konsisten di berbagai budaya.
Penelitian neurosains oleh Jorge Moll yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience menemukan bahwa tindakan memberi mengaktifkan pusat penghargaan di otak, sama seperti ketika seseorang menerima hadiah.
kupi beungoh
Meaningful
Opini
Sains
sedekah
harta
Serambi Indonesia
Ramadan 2026
Ramadhan
Aceh
Eksklusif
opini serambi
opini serambinews
Saksikata
Serambinews.com
| Perang dan Damai - Bagian 9, Perjalanan Ke Manado Kota Toleransi |
|
|---|
| Prabowo, Doli, dan Mualem di Balik Perpanjangan Otsus Aceh |
|
|---|
| Sosok Ismail Rasyid, Pengusaha Asal Aceh yang Menembus Batas-batas Kemungkinan |
|
|---|
| Traffic Light dan Karakter Kita: Renungan Umur Manusia |
|
|---|
| Peusijuk: Dari Warisan Budaya ke Katalisator Pendidikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dr-Muhammad-Nasir-dosen-politeknik-lhokseumawe.jpg)