Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Bully dan Trauma: Ancaman di Tengah Dunia Pendidikan

Perilaku ini dapat menjadi kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan, baik secara sosial maupun fisik

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
NURUL PHACHNA 

Tidak sedikit pula siswa yang enggan bergaul dan memilih menutup diri akibat trauma serta rasa tidak aman terhadap lingkungannya.

Fenomena perundungan juga kerap berkaitan dengan status sosial. Di beberapa sekolah di Aceh misalnya, terdapat siswa yang menjadi minder karena dirisak atau di-bully akibat latar belakang ekonomi keluarga, pekerjaan orang tua, warna kulit, maupun status sebagai siswa pindahan.

Siswa yang orang tuanya bekerja sebagai buruh harian, nelayan, atau pekerja informal sering kali menjadi sasaran ejekan dan perlakuan tidak menyenangkan dari teman sebayanya.

Di Aceh, masih ditemukan sejumlah kasus ‘bullying’. Salah satu kasus terparah yang pernah terjadi pada tahun 2025 adalah pembakaran pondok asrama putra di Dayah Babul Maghfirah, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar. Pelaku dalam peristiwa tersebut merupakan salah satu santri yang diketahui menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa perundungan yang berlangsung dalam jangka panjang dapat merusak kondisi mental anak dan berpotensi menimbulkan korban lainnya.

Di sisi lain, seorang guru di Aceh menceritakan adanya siswa pindahan yang mengalami perisakan berlanjut karena dianggap berbeda dan berasal dari keluarga kurang mampu.

Ejekan yang diterima secara terus-menerus membuat siswa tersebut menarik diri, enggan bergaul, dan kehilangan semangat belajar.

Kasus ini menunjukkan bahwa ‘bullying’ tidak hanya melukai individu, tetapi juga mencerminkan belum tumbuhnya budaya empati dan penerimaan di lingkungan sekolah.

Saya sendiri pernah menjumpai kasus perundungan yang berdampak pada trauma mendalam, meskipun bukan seorang konselor. Seorang siswa yang mengalami ‘bullying’ verbal dan tidak mendapatkan penyelesaian yang baik dan tuntas membawa luka tersebut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya.

Trauma yang dialaminya membuat siswa tersebut harus berpindah-pindah sekolah, bahkan belajar di rumah dan di ruang konselor. Kepribadiannya menjadi sangat tertutup, dengan keterbatasan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri.

Melalui pendekatan personal dari rumah, dengan berbekal pengalaman pribadi sebagai korban ‘bullying’, saya coba membuka percakapan dengannya.

Alhamdulillah, hingga kini siswa tersebut mampu menjalani hari-harinya seperti siswa pada umumnya. Pengalaman ini menegaskan bahwa kasus perundungan yang tidak terselesaikan dengan baik akan meninggalkan trauma yang membekas dan sulit disembuhkan.

Oleh karena itu, peran konselor, guru, dan orang tua sangat besar dalam mencegah dan menangani ‘bullying’. Pendekatan melalui pemahaman teori dasar, dampak, jenis, serta cara menanggulangi ‘bullying’ perlu diterapkan secara konsisten di dunia pendidikan. Setiap manusia sejatinya memiliki kemampuan untuk mengatasi masalahnya masing-masing. Namun, keterampilan tersebut sering kali belum muncul karena keterbatasan dukungan dan media yang dimiliki.

Penting bagi kita untuk terus menyosialisasikan kepada siswa dan seluruh warga sekolah tentang besarnya dampak perundungan.

Menghina dan merendahkan orang lain secara berulang merupakan persoalan psikososial yang dapat menyebabkan trauma serius dan berdampak pada kesehatan mental. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved