Jurnalisme Warga
Bully dan Trauma: Ancaman di Tengah Dunia Pendidikan
Perilaku ini dapat menjadi kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan, baik secara sosial maupun fisik
Selain itu, penggunaan media sosial yang tidak bijak juga dapat memperparah kondisi psikologis korban.
Edukasi tentang empati, toleransi, dan penggunaan media sosial secara sehat menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan manusiawi.
Dalam konteks Aceh yang memiliki keragaman latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya, isu ‘bullying’ perlu mendapatkan perhatian lebih serius.
Perbedaan warna kulit, pekerjaan orang tua, tempat tinggal, hingga sekolah asal sering kali tanpa disadari menjadi pemicu perlakuan diskriminatif di lingkungan pendidikan.
Padahal, nilai-nilai kearifan lokal Aceh menjunjung tinggi keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Sekolah-sekolah di Aceh memiliki peran strategis untuk menanamkan nilai empati dan penerimaan terhadap perbedaan sejak dini. Anak- anak perlu diajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk merendahkan, melainkan kekayaan sosial yang patut dihargai.
Ketika lingkungan pendidikan mampu menghadirkan rasa aman dan keadilan, potensi terjadinya perisakan dapat ditekan secara signifikan.
Pada akhirnya, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan setiap peserta didik tumbuh dalam lingkungan yang menghargai martabat kemanusiaan. Perisakan bukan hanya persoalan perilaku individu, melainkan cerminan nilai yang hidup dalam suatu lingkungan.
Dengan menumbuhkan empati, kepedulian, dan keberanian untuk bersikap adil, perisakan dapat dicegah dan trauma yang ditimbulkannya dapat diminimalkan demi masa depan generasi Aceh yang lebih sehat secara mental dan emosional.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/NURUL-PHACHNA.jpg)