Jurnalisme Warga
Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah
Hal ini dibuktikan dengan dua situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis itu terletak di Meunasah Jambee
(Terjemahan: Orang berperang merebut daerah, mereka sibuk rampas pelabuhan. Semua gila rebut negeri, hulubalang keji setan perdaya. Sebab, enak terima upeti, rakyat mati tak dikira. Siapa tak turut harta dirampas, dia salah dari Ketua).
Hal serupa juga berimbas terhadap Gampong Bucue. Gampong ini selalu jadi sumber sengketa antara Uleebalang Keumangan dengan Uleebalang Cumbok. Akibat sering bertukar penguasa, di Gampong Bucue terdapat sebuah masjid sampai sekarang, padahal dalam tradisi Aceh sebuah masjid berada pada sebuah mukim yang berlokasi di Kandang, sebab Gampong Bucue termasuk dalam Mukim Kandang (bercahaya).
Dalam awal tahun 1970-an, masjid ini, atas saran Teungku Ramli Titeue, diberi nama “Masjid Al Huda”.
Masa kolonial
Saat perang total (1873– 1903) melawan Belanda masih berkobar di Aceh, Gampong Bucue termasuk salah satu sentral perlawanan terhadap Marsose (pasukan khusus Belanda). Di kampung ini berdomisili seorang Panglima Kuta Sukon bernama Teungku (Tgk) Ahmad Titeue. Kuta Sukon (benteng Sukon) terletak di Gampong Sukon dekat Kota Sigli.
Terakhir, panglima ini berhasil ditawan oleh Belanda, lalu dibuang ke Beutawi alias Batavia (Jakarta sekarang).
Dalam periode perang gerilya, di Gampong Bucue terdapat dua pusat gerilyawan Aceh yang digelar “Ureueng Muslimin”(Orang Muslimin), yaitu di Lampoeh Rot Timu kawasan Meunasah Jambee dan di Kuta Trieng, Dusun Meuseujid.
Banyak pejuang dari luar Gampong Bucue ikut berjuang dari kedua benteng ini.
Akibat pengkhianatan mata-mata Belanda, Benteng Lampoh Rot Timu dibakar Belanda. Salah seorang yang luput dari musibah tersebut adalah Tgk Ibrahim alias Abi Nyak Jali.
Kemudian, Abi Nyak Jali juga syahid di Kuta Trieng akibat terjangan peluru Belanda. Abang beliau, Tgk Hasan, ditawan Belanda dan dibuang ke Beutawi.
Tahun 1326 H, dalam persembunyian di kedua benteng “Ureueng Muslimin” di Gampong Bucue itu, Tgk Ibrahim selesai menyalin Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil).
Saat itu, perang melawan Belanda di Aceh sudah berlangsung 37 tahun yang bermula tahun 1289 H (1873 M). Tahun 2007 kajian hikayat itu diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Aceh dengan judul Hikayat Muda Balia.
Bale seumeubeuet
Sejauh yang masih terkambam (melekat) dalam ingatan saya, Tgk Seumeubeuet (guru mengaji) di Gampong Bucue bernama Tgk Nyak Khatijah. Rumah beliau di sekitar lapangan sepak bola sekarang, dekat ‘jeumatan’ (jembatan). Ke rumah itulah putra-putri Gampong Bucue belajar mengaji Al-Qur’an dan menimba ilmu agama saat itu, termasuk ibunda saya.
Setelah Tgk Nyak Khatijah meninggal, pusat pengajian di Bucue berpindah ke Meulasah Jambee, hingga dulu dusun itu sering disebut “Tumpok Teungku”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)