Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah

Hal ini dibuktikan dengan dua  situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis  itu terletak di Meunasah Jambee

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, penerima Kehati  Award  dari Yayasan Kehati ahun 2001, melaporkan dari Gampong Ujong Blang, Mukim  Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya 

(Terjemahan:  Orang berperang merebut daerah, mereka sibuk rampas pelabuhan. Semua gila rebut negeri, hulubalang keji setan perdaya. Sebab, enak terima upeti, rakyat mati tak dikira. Siapa tak turut harta dirampas, dia salah dari Ketua).

Hal serupa juga berimbas terhadap Gampong Bucue. Gampong ini selalu jadi sumber sengketa antara Uleebalang Keumangan dengan Uleebalang Cumbok. Akibat sering bertukar penguasa, di Gampong Bucue terdapat sebuah masjid sampai sekarang, padahal dalam tradisi Aceh sebuah masjid berada pada sebuah mukim yang berlokasi  di Kandang, sebab Gampong Bucue termasuk dalam Mukim Kandang (bercahaya).

Dalam  awal tahun 1970-an, masjid ini, atas saran Teungku Ramli Titeue, diberi nama “Masjid  Al Huda”.

Masa kolonial

Saat  perang  total (1873– 1903)  melawan Belanda masih berkobar di Aceh, Gampong Bucue termasuk salah satu sentral  perlawanan terhadap Marsose (pasukan khusus Belanda). Di kampung ini berdomisili seorang Panglima Kuta Sukon bernama Teungku (Tgk) Ahmad Titeue. Kuta Sukon (benteng Sukon) terletak di Gampong Sukon dekat Kota Sigli.

Terakhir, panglima ini berhasil ditawan oleh Belanda, lalu dibuang ke Beutawi alias  Batavia (Jakarta sekarang).

Dalam periode perang gerilya, di Gampong Bucue terdapat dua pusat gerilyawan Aceh yang digelar “Ureueng Muslimin”(Orang Muslimin), yaitu di Lampoeh Rot Timu kawasan Meunasah Jambee dan di Kuta Trieng, Dusun Meuseujid.

Banyak pejuang dari luar Gampong Bucue ikut berjuang  dari  kedua benteng ini.

Akibat pengkhianatan mata-mata Belanda,  Benteng Lampoh Rot Timu dibakar Belanda. Salah seorang yang luput  dari musibah tersebut adalah Tgk Ibrahim alias Abi Nyak Jali.

Kemudian, Abi Nyak Jali juga syahid di Kuta Trieng akibat terjangan peluru Belanda. Abang beliau, Tgk Hasan, ditawan Belanda dan dibuang ke Beutawi.

Tahun 1326 H,   dalam persembunyian di kedua benteng “Ureueng Muslimin” di Gampong Bucue itu, Tgk Ibrahim selesai menyalin Hikayat Prang Sabi (Hikayat Perang Sabil).

Saat itu, perang melawan Belanda di Aceh sudah berlangsung 37  tahun yang bermula tahun 1289 H (1873 M). Tahun 2007 kajian hikayat itu  diterbitkan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Provinsi Aceh dengan judul Hikayat Muda Balia.

Bale seumeubeuet              

Sejauh yang masih terkambam (melekat) dalam ingatan saya, Tgk Seumeubeuet (guru mengaji) di Gampong Bucue bernama Tgk Nyak Khatijah. Rumah beliau di sekitar lapangan sepak bola sekarang, dekat ‘jeumatan’ (jembatan). Ke rumah itulah putra-putri Gampong Bucue belajar mengaji  Al-Qur’an dan menimba ilmu agama saat itu, termasuk ibunda saya.

Setelah Tgk Nyak Khatijah meninggal, pusat pengajian di Bucue berpindah ke Meulasah Jambee, hingga dulu dusun itu sering disebut “Tumpok Teungku”.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved