Jurnalisme Warga
Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah
Hal ini dibuktikan dengan dua situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis itu terletak di Meunasah Jambee
Ketika saya masuk SMAN Sigli (1972), muncul Bale Seumeubeuet baru di Bucue Meulasah Jambee, yang diasuh oleh Tgk Muhammad Amin Usman selama beberapa tahun.
Setelah saya merantau kuliah ke Banda Aceh tahun 1975 tumbuh ‘bale semeubeuet’ (tempat pengajian) baru lagi di Bucue, di bawah asuhan Tgk M Hasan Amin, dibantu istri beliau, Tgk Nyak Hamidah binti Bansu Sulaiman.
Tempat ‘seumeubeuet’ ini di Dusun Meunasah Pi. Kemudian, hadir pula ‘bale semeubeuet’ di Dusun Meuseujid, dipimpin Tgk Muhammad Nur (Aceh: Tgk Mat Nu).
Mengingat di Aceh sekarang sudah ada lembaga resmi pengelola pendidikan agama, yaitu Dinas Pendidikan Dayah, diharapkan dinas ini juga peduli terhadap ‘bale seumeubeuet’ yang cukup banyak di Aceh dan kiranya Dinas Pendidikan Dayah ini diubah namanya menjadi “Dinas Pendidikan Bale Seumeubeuet dan Dayah Provinsi Aceh”.
Gampong berkesenian
Meunasah Pi lebih berperan sebagai dusun kesenian Aceh. ‘Rapai pulot’ cukup terkenal di sana tempo dulu. Syekh Basyah cukup populer dalam hal menabuh rapai, meski beliau tak pernah melantunkan lagu.
‘Aneuk pulot’ (anak penari) cukup terkenal bernama Bansu yang mampu mengambil uang koin dengan lidah, saat melenturkan badan ke belakang.
Tahun 1976, bangkit kembali piasan (seni) rapai di Meunasah Pi.
Tahun 1972, tradisi membaca Dalail Khairat tumbuh di Bucue yang dipimpin Tgk Ramli. Acara baca Dalail bergilir pada malam Senin dan Jumat, berlansung di Meunasah Jambee.
Saya pernah ikut berjalan kaki lewat pematang sawah 8-9 kilometer di malam hari, menyertai rombongan baca Dalail yang diundang ke Gampong Keumangan, Kecamatan Mutiara, Pidie. Demikianlah, kisahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)