Rabu, 3 Juni 2026

Jurnalisme Warga

Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah

Hal ini dibuktikan dengan dua  situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis  itu terletak di Meunasah Jambee

Tayang:
Editor: mufti
SERAMBINEWS/tambeh.wordpress.com
T.A. SAKTI, penerima Kehati  Award  dari Yayasan Kehati ahun 2001, melaporkan dari Gampong Ujong Blang, Mukim  Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya 

T.A. SAKTI, penerima Kehati  Award  dari Yayasan Kehati ahun 2001, melaporkan dari Gampong Ujong Blang, Mukim  Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya

Bucue, sebuah kampung  berusia tua di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh. Hal ini dibuktikan dengan dua  situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis  itu terletak di Meunasah Jambee, salah satu dusun dari tiga dusun di Bucue. Di ujung paling timur Meunasah Jambee terhampar sebuah perkuburan lama.

Menurut penuturan para sesepuh kampung, pemilik kuburan itu adalah para pendatang dari Pase,  Aceh Utara.  Selain kuburan yang luas, sebuah kolam tua yang  besar juga masih ada sampai sekarang. 

Dekat kolam  itu, sebidang tanah  luas, yang hingga sekarang digelari “Tanoh Meulasah” (tanah milik gampong) dan sepetak sawah “Umong Ie Bu” (sawah bubur puasa) juga masih ada.

Satu situs lainnya adalah Kubu Teungku Raja Imum di ujung barat Meunasah Jambee. Kemungkinan besar, beliau adalah ‘teungku’ atau guru agama Islam bagi warga asal Pase yang mendiami kampung baru.

Sampai sekarang, warga Bucue Meunasah Jambee dan sekitarnya, setahun sekali mengadakan “khanduri blang” (kenduri sawah) di makam Teungku Raja Imum.

Pada abad ke 7 H/13 M Kerajaan Islam Pasai diserang oleh sebuah kekuatan  luar, maka terjadilah pengungsian penduduk dari kerajaan  itu ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok pengungsi  menetap di Gampong Bucue dan satu rombongan lain menetap di kampung lain yang sampai sekarang masih digelari  Meunasah Pasee (Kampung Pasai). Lokasinya dekat Gampong Tiba, Kecamatan Mutiara, Pidie.

Kata “tiba”, berarti setelah sampai di situ menetaplah mereka di situ, lalu membangun meunasah.

Gampong rebutan

Pada abad ke-19,  saat kontrol  kekuasaan pusat Kerajaan Aceh Darussalam ke daerah-daerah sudah melemah, terjadilah konflik antara uleebalang (hulubalang) di Aceh  yang saling memperluas wilayah. Peristiwa ini disebut  periode Perang Pageue  (perang pagar), Perang Meusunoh Lhok (perang perebutan wilayah).

Dalam Nazam Akhbarun Na’im, karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum yang ditulis tahun 1270 H/abad ke-19 M, kita jumpai  kritikan pengarang terhadap Perang Meuseunuh Lhok ini, antara lain, sebagai berikut:

Ladom muprang meuseunoh lhok, dijih dawok tueng kuwala

Sare pungo baktueng nanggroe, raja pindoe jen peudaya

Sabab harok baktueng wase, rakyat mate dum meukeuba

Soehan teungoh ka jirampaih, sinyan salah bak Peutua

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved