Jurnalisme Warga
Gampong Bucue dalam Lintasan Sejarah
Hal ini dibuktikan dengan dua situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis itu terletak di Meunasah Jambee
T.A. SAKTI, penerima Kehati Award dari Yayasan Kehati ahun 2001, melaporkan dari Gampong Ujong Blang, Mukim Bungong Taloe, Kecamatan Beutong, Nagan Raya
Bucue, sebuah kampung berusia tua di Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Aceh. Hal ini dibuktikan dengan dua situs sejarah abad ke-13 M yang terdapat di sana. Kedua bukti historis itu terletak di Meunasah Jambee, salah satu dusun dari tiga dusun di Bucue. Di ujung paling timur Meunasah Jambee terhampar sebuah perkuburan lama.
Menurut penuturan para sesepuh kampung, pemilik kuburan itu adalah para pendatang dari Pase, Aceh Utara. Selain kuburan yang luas, sebuah kolam tua yang besar juga masih ada sampai sekarang.
Dekat kolam itu, sebidang tanah luas, yang hingga sekarang digelari “Tanoh Meulasah” (tanah milik gampong) dan sepetak sawah “Umong Ie Bu” (sawah bubur puasa) juga masih ada.
Satu situs lainnya adalah Kubu Teungku Raja Imum di ujung barat Meunasah Jambee. Kemungkinan besar, beliau adalah ‘teungku’ atau guru agama Islam bagi warga asal Pase yang mendiami kampung baru.
Sampai sekarang, warga Bucue Meunasah Jambee dan sekitarnya, setahun sekali mengadakan “khanduri blang” (kenduri sawah) di makam Teungku Raja Imum.
Pada abad ke 7 H/13 M Kerajaan Islam Pasai diserang oleh sebuah kekuatan luar, maka terjadilah pengungsian penduduk dari kerajaan itu ke berbagai penjuru. Salah satu kelompok pengungsi menetap di Gampong Bucue dan satu rombongan lain menetap di kampung lain yang sampai sekarang masih digelari Meunasah Pasee (Kampung Pasai). Lokasinya dekat Gampong Tiba, Kecamatan Mutiara, Pidie.
Kata “tiba”, berarti setelah sampai di situ menetaplah mereka di situ, lalu membangun meunasah.
Gampong rebutan
Pada abad ke-19, saat kontrol kekuasaan pusat Kerajaan Aceh Darussalam ke daerah-daerah sudah melemah, terjadilah konflik antara uleebalang (hulubalang) di Aceh yang saling memperluas wilayah. Peristiwa ini disebut periode Perang Pageue (perang pagar), Perang Meusunoh Lhok (perang perebutan wilayah).
Dalam Nazam Akhbarun Na’im, karya Syekh Abdussamad alias Teungku Di Cucum yang ditulis tahun 1270 H/abad ke-19 M, kita jumpai kritikan pengarang terhadap Perang Meuseunuh Lhok ini, antara lain, sebagai berikut:
Ladom muprang meuseunoh lhok, dijih dawok tueng kuwala
Sare pungo baktueng nanggroe, raja pindoe jen peudaya
Sabab harok baktueng wase, rakyat mate dum meukeuba
Soehan teungoh ka jirampaih, sinyan salah bak Peutua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)