Opini
Ketika Kesombongan Donald Trump Dirudal Abu Nawas
Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.
Trump mencoba mengangkat kebanggaan lain.
“Aku mempersatukan dunia. Aku menjaga kedamaian abadi.”Abu Nawas:
“Di negerimu sendiri, rakyatmu terbelah.
Sebagian besar tidak menyetujui kepemimpinanmu.”
Trump terdiam.
Abu Nawas melanjutkan.
“Mahkamah Agung negerimu membatalkan kebijakan tarifmu karena melanggar konstitusi.
Jika di rumah sendiri kau dibatasi,
bagaimana kau mengaku tak terbatas di dunia?”
Trump mulai terlihat kecil di tengah gurun.
“Aku kuat secara ekonomi!”
Abu Nawas:
“Kalau kuat,
mengapa memakai tarif proteksionis?
Apakah itu kekuatan —
atau ketakutan terhadap persaingan?”
Trump tidak menjawab.
Abu Nawas menatapnya lebih dalam.
“Jika kau penjaga kedamaian dunia,
mengapa gaya kepemimpinanmu menciptakan ketidakpastian?
Mengapa sekutu menjadi cemas?
Mengapa NATO merenggang?”
Trump berbisik.
“America First.”
Abu Nawas menjawab:
“America First bukan berarti America Alone.”
”Jika kamu mementingkan bangsamu, padahal mengaku pembela kedamaian dunia: bukankah itu pembunuh, mengebom anak-anak tidak berdosa, ibu tua renta yang tidak berdosa: yang benar kamu perusak kedamaain? Hanya berani membunuh yang tak berdosa, itu bukan Donald Trump namanya, itu Donald Bebek? Pungkas Abu Nawas.
Sunyi panjang.
Firaun dan Takabbur
Abu Nawas kemudian berkata pelan:
“Kau merasa lebih hebat dari Firaun dan Namrud.” Jangan-jangan kamu Dajjal bermata dua”?
Trump tersentak.
“Aku tidak pernah mengaku tuhan. Aku bukan Dajjal. Aku bukan Bebek!”. Aku penyelamat dunia.
Abu Nawas:
“Firaun dan Namrud tenggelam bukan karena ia berkata dirinya tuhan.
Ia tenggelam karena ia merasa tak tersentuh. Firaun mati tenggelam di Laut Merah. Namrud mati karena seekor nyamuk kecil masuk ke dalam hidungnya. Jangan-jangan ajalmu juga sedang menghitung hari mati berdiri karena kecongkakanmu”.
Trump terdiam. Wajah Trump memerah seperti langit Israil, Telinganya keluar angin panas seperti bunyi desingan rudal. Jantung berdegup kencang bagaian bunyi bangunan roboh kena hentaman bom. Nafasnya tersengal-sengal seperti mau keluar ajal.
Abu Nawas melanjutkan.
“Takabbur bukan soal kalimat.
Takabbur adalah rasa bahwa kuasa ada di tanganmu sepenuhnya.”
Langit berubah menjadi cermin raksasa.
Trump melihat dirinya berdiri di atas peta dunia.
Namun bayangan itu retak.
Abu Nawas berbicara terakhir.
“Kekuatan manusia selalu punya batas.
Batas itu tidak bisa ditembus oleh rudal.
Tidak bisa diperluas oleh sekutu.
Tidak bisa dibenarkan oleh pidato.”
Trump merasa kecil.
Bukan kecil karena kalah perang.
Tetapi kecil karena menyadari dirinya fana.
Abu Nawas berjalan menjauh.
“Kuasa adalah amanah, bukan mahkota ilahi.
Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.”
Gurun memudar.
Trump terbangun dalam keheningan. Tidak ada gurun. Tidak ada Abu Nawas. Tetapi ada satu hal yang tertinggal: Kesadaran bahwa tidak ada manusia yang bisa menyamai Tuhan. Tidak ada penguasa yang benar-benar tak terbatas. Tidak ada kekuatan yang abadi.
Dan sejarah Persia telah membuktikan satu hal: Peradaban yang berdiri di atas ilmu dan kesadaran akan batas selalu lebih panjang umur daripada kekuasaan yang berdiri di atas kesombongan.
Cermin bagi Para Penguasa
Sejarah tidak pernah tunduk pada satu orang. Ia mencatat. Ia menguji. Ia mengadili. Firaun pernah merasa tak tersentuh. Namrud pernah merasa tak tertandingi. Kisra Persia pernah merobek surat Nabi dengan angkuh. Semua merasa dunia ada di telapak tangan mereka.
Namun yang abadi bukan mahkota. Bukan rudal. Bukan koalisi militer. Bukan pangkalan di negeri orang. Yang abadi adalah kebenaran. Takabbur selalu lahir dari ilusi bahwa kuasa itu milik pribadi. Padahal kuasa hanyalah pinjaman.
Hari ini seseorang bisa memerintahkan perang. Besok ia diperintahkan oleh waktu. Hari ini seseorang bisa menjatuhkan pemimpin lain. Besok namanya sendiri dijatuhkan oleh sejarah. Persia pernah diserang berkali-kali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)