Opini
Ketika Kesombongan Donald Trump Dirudal Abu Nawas
Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.
Baghdad pernah dibakar. Abbasiyah pernah runtuh. Namun ilmu tetap hidup. Gagasan tetap bergerak. Dan kisah Abu Nawas tetap diwariskan. Karena kecerdikan lebih lama umurnya daripada kesombongan. Karena hikmah lebih kuat daripada propaganda. Karena peradaban lebih kokoh daripada ambisi pribadi.
Penguasa yang merasa dirinya hampir menyamai Tuhan sebenarnya sedang berdiri paling dekat dengan kehancurannya sendiri. Sebab Tuhan tidak pernah membutuhkan sekutu.
Tuhan tidak pernah membutuhkan pangkalan. Tuhan tidak pernah takut pada opini publik.
Tuhan tidak pernah perlu pidato untuk membuktikan kuasa-Nya.
Manusia yang lupa batas akan selalu diingatkan oleh batas. Dan sejarah punya satu kebiasaan yang tak pernah gagal: Ia menertawakan mereka yang terlalu serius menganggap dirinya tak tergantikan. Maka mungkin yang dunia butuhkan bukan lebih banyak rudal.
Bukan lebih banyak aliansi militer. Bukan lebih banyak pidato kemenangan.
Dunia membutuhkan lebih banyak Abu Nawas. Bukan untuk menjatuhkan dengan kebencian. Tetapi untuk memantulkan cermin.
Cermin yang membuat penguasa melihat dirinya sendiri. Bukan sebagai penguasa dunia. Tetapi sebagai manusia. Karena pada akhirnya, semua mahkota akan jatuh.
Dan yang tersisa hanya satu pertanyaan: Apakah ia dikenang sebagai pembangun peradaban atau hanya sebagai gema kesombongan yang sebentar menggema lalu hilang? Sejarah sedang menunggu jawabannya.
Doa untuk Dunia dan Para Penguasanya
Maka jika malam ini ada penguasa yang merasa dirinya tak terkalahkan, semoga ia diberi kesadaran sebelum diberi peringatan. Jika ada pemimpin yang merasa bisa menentukan hidup dan mati sesuka hati, semoga ia diingatkan bahwa hidup dan mati bukan milik manusia.
Jika ada yang mengira kekuatan berarti kebebasan tanpa batas, semoga ia disadarkan bahwa setiap kekuatan selalu memiliki hisab.
Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengatur sejarah, jangan Engkau biarkan dunia dipimpin oleh kesombongan. Jangan Engkau biarkan kekuasaan berubah menjadi berhala modern. Jangan Engkau biarkan manusia merasa dirinya tak tersentuh.
Bangkitkan di setiap zaman sosok-sosok yang seperti Abu Nawas —yang berani berbicara dengan kecerdikan, yang melawan dengan hikmah, yang menegur tanpa pedang, yang menjatuhkan kesombongan tanpa darah.
Bangkitkan pemimpin yang kuat tetapi rendah hati. Yang tegas tetapi adil. Yang berkuasa tetapi sadar bahwa kuasa itu titipan. Karena dunia tidak hancur oleh kelemahan. Dunia hancur oleh kesombongan yang tak terkendali.
Pada akhirnya, tak ada yang lebih kuat dari waktu. Tak ada yang lebih besar dari kebenaran.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)