Opini
Ketika Kesombongan Donald Trump Dirudal Abu Nawas
Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.
Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)
Malam itu ia tidur bukan sebagai presiden. Ia tidur seolah-olah bagai pengubah arah sejarah. Serangan telah diluncurkan. Langit Timur Tengah terbakar. Iran berduka. Pemimpin tertingginya gugur. Ayatollah Ali Khamenei telah tiada. Negara itu berkabung empat puluh hari. Pertanda duka yang medalam. Sebelumnya, Venezuela pun tunduk. Presiden Nicolas Maduro ditangkap. Dibawa ke New York. Diadili atas tuduhan narkoterorisme.
Di ruang rapat ia telah berkata dengan nada yang hampir sakral: “Kami menghancurkan kepemimpinan mereka. Kami menentukan arah sejarah. Kami menjatuhkan siapa pun yang menentang kami.”
Namun di dalam batinnya, kata “kami” mengecil. Yang tersisa hanya satu kata: Aku. Aku menyerang. Aku menangkap. Aku menentukan. Akulah Donald Trump Presiden adikuasa. Tidak ada tandingan. Firaun modern. Dan di titik itu —kesombongan mulai menyentuh wilayah yang berbahaya.
Baca juga: Sosok Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Disebut Jadi Penerus Pimpinan Tertinggi Iran
Persia yang Tidak Pernah Mati
Ia tidak pernah membaca sejarah Persia dengan sungguh-sungguh. Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.
Dari Achaemenid di bawah Cyrus Agung, hingga Sasania yang menantang Romawi, hingga Safawi yang membangun identitas Islam Syiah, Persia selalu jatuh — tetapiselalu bangkit.
Ia diserang oleh Mongol. Ia runtuh di bawah invasi. Namun budayanya menyerap penakluk. Ketika Islam datang, Persia tidak hilang. Ia justru menjadi pusat ilmu. Salman Al-Farisi, sahabat Nabi, adalah simbol bahwa Persia tidak ditaklukkan oleh pedang — tetapi dimuliakan oleh ilmu.
Dan ketika Baghdad berdiri di bawah Abbasiyah, Persia menjadi jantung intelektualnya. Baitul Hikmah. Al-Khawarizmi. Al-Farabi. Ibnu Sina. Kekuatan bukan diukur oleh pedang, tetapi oleh pikiran. Dan di tengah Baghdad itu, hidup seorang lelaki bernama Abu Nawas. Ia tidak menjatuhkan raja dengan perang. Ia menjatuhkan raja dengan cermin.
Baca juga: Sekutu Amerika di Teluk Persia Panik, Minta AS Gunakan Akal Sehat Sebelum Serang Iran
Gurun Mimpi
Dalam tidurnya, Trump berdiri di gurun tanpa batas. Tidak ada sekutu. Tidak ada Israel. Tidak ada pangkalan di Qatar atau Saudi. Tidak ada NATO. Hanya dirinya. Dan dari kejauhan, Abu Nawas berjalan mendekat.
Trump membuka percakapan lebih dulu.
“Aku telah menjatuhkan Iran. Aku menangkap Maduro.
Aku menentukan sejarah.”
Abu Nawas menatapnya lembut. “Sejarah siapa?”
Trump menjawab tegas. “Sejarah dunia.” Abu Nawas bertanya pelan.
“Apakah dunia pernah menyerahkan dirinya padamu?”
Trump mengerutkan dahi.
“Aku kuat. Aku punya militer terbesar.”
Abu Nawas:
“Kalau kau kuat,
mengapa perlu bersekutu dengan Israel?”
Trump:
“Itu strategi.”
Abu Nawas:
“Kalau kau kuat,
mengapa pangkalanmu berdiri di tanah orang lain?
Qatar. Jordan. Saudi. Bahrain.”
Trump terdiam.
Abu Nawas melanjutkan.
“Kalau kau benar-benar kuat,
bangun pangkalan di langit.”
Trump kesal.
“Itu tidak masuk akal!”
Abu Nawas tersenyum.
“Persis.”
Sunyi.
Trump mencoba membalikkan keadaan.
“Aku menyerang dari jauh karena teknologi.”
Abu Nawas:
“Kalau kau benar-benar kuat,
mengapa menyerang dengan rudal dari jauh?
Mengapa tidak berhadap-hadapan?”
Trump membentak.
“Presiden tidak turun ke medan perang!”
Abu Nawas:
“Maka jangan bicara tentang keberanian pribadi.”
Pasir bergeser.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-M-Shabri-Abd-Majid-Prof-Bidang-Ilmu-Ekonomi-USK-Banda-Aceh.jpg)