Senin, 27 April 2026

Opini

Ketika Kesombongan Donald Trump Dirudal Abu Nawas

Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.

Serambinews.com/HO/Tidak Ada
M. Shabri Abd. Majid adalah Profesor Bidang Ekonomi Islam dan Koordinator Prodi S3 Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. 

Oleh: M. Shabri Abd. Majid*)

Malam itu ia tidur bukan sebagai presiden. Ia tidur seolah-olah bagai pengubah arah sejarah. Serangan telah diluncurkan. Langit Timur Tengah terbakar. Iran berduka. Pemimpin tertingginya gugur. Ayatollah Ali Khamenei telah tiada. Negara itu berkabung empat puluh hari. Pertanda duka yang medalam. Sebelumnya, Venezuela pun tunduk. Presiden Nicolas Maduro ditangkap. Dibawa ke New York. Diadili atas tuduhan narkoterorisme.

Di ruang rapat ia telah berkata dengan nada yang hampir sakral: “Kami menghancurkan kepemimpinan mereka. Kami menentukan arah sejarah. Kami menjatuhkan siapa pun yang menentang kami.”

Namun di dalam batinnya, kata “kami” mengecil. Yang tersisa hanya satu kata: Aku. Aku menyerang. Aku menangkap. Aku menentukan. Akulah Donald Trump Presiden adikuasa. Tidak ada tandingan. Firaun modern. Dan di titik itu —kesombongan mulai menyentuh wilayah yang berbahaya.

Baca juga: Sosok Mojtaba Khamenei, Putra Ali Khamenei yang Disebut Jadi Penerus Pimpinan Tertinggi Iran

Persia yang Tidak Pernah Mati

Ia tidak pernah membaca sejarah Persia dengan sungguh-sungguh. Iran yang dulu Bernama Persia bukan sekadar wilayah. Ia adalah peradaban yang telah berdiri ribuan tahun sebelum Amerika lahir.

Dari Achaemenid di bawah Cyrus Agung, hingga Sasania yang menantang Romawi, hingga Safawi yang membangun identitas Islam Syiah, Persia selalu jatuh — tetapiselalu bangkit.

Ia diserang oleh Mongol. Ia runtuh di bawah invasi. Namun budayanya menyerap penakluk. Ketika Islam datang, Persia tidak hilang. Ia justru menjadi pusat ilmu. Salman Al-Farisi, sahabat Nabi, adalah simbol bahwa Persia tidak ditaklukkan oleh pedang — tetapi dimuliakan oleh ilmu.

Dan ketika Baghdad berdiri di bawah Abbasiyah, Persia menjadi jantung intelektualnya. Baitul Hikmah. Al-Khawarizmi. Al-Farabi. Ibnu Sina. Kekuatan bukan diukur oleh pedang, tetapi oleh pikiran. Dan di tengah Baghdad itu, hidup seorang lelaki bernama Abu Nawas. Ia tidak menjatuhkan raja dengan perang. Ia menjatuhkan raja dengan cermin.

Baca juga: Sekutu Amerika di Teluk Persia Panik, Minta AS Gunakan Akal Sehat Sebelum Serang Iran

Gurun Mimpi

Dalam tidurnya, Trump berdiri di gurun tanpa batas. Tidak ada sekutu. Tidak ada Israel. Tidak ada pangkalan di Qatar atau Saudi. Tidak ada NATO. Hanya dirinya. Dan dari kejauhan, Abu Nawas berjalan mendekat.

Trump membuka percakapan lebih dulu. 
“Aku telah menjatuhkan Iran. Aku menangkap Maduro. 
Aku menentukan sejarah.” 
Abu Nawas menatapnya lembut. “Sejarah siapa?”
Trump menjawab tegas. “Sejarah dunia.” Abu Nawas bertanya pelan.
“Apakah dunia pernah menyerahkan dirinya padamu?”
Trump mengerutkan dahi.
“Aku kuat. Aku punya militer terbesar.”

Abu Nawas:
“Kalau kau kuat,
mengapa perlu bersekutu dengan Israel?”
Trump:
“Itu strategi.”
Abu Nawas:
“Kalau kau kuat,
mengapa pangkalanmu berdiri di tanah orang lain?
Qatar. Jordan. Saudi. Bahrain.”
Trump terdiam.

Abu Nawas melanjutkan.
“Kalau kau benar-benar kuat,
bangun pangkalan di langit.”
Trump kesal.
“Itu tidak masuk akal!”
Abu Nawas tersenyum.
“Persis.”
Sunyi.

Trump mencoba membalikkan keadaan.
“Aku menyerang dari jauh karena teknologi.”

Abu Nawas:
“Kalau kau benar-benar kuat,
mengapa menyerang dengan rudal dari jauh?
Mengapa tidak berhadap-hadapan?”
Trump membentak.
“Presiden tidak turun ke medan perang!”

Abu Nawas:
“Maka jangan bicara tentang keberanian pribadi.”
Pasir bergeser.

Trump mencoba mengangkat kebanggaan lain.
“Aku mempersatukan dunia. Aku menjaga kedamaian abadi.”Abu Nawas:
“Di negerimu sendiri, rakyatmu terbelah.
Sebagian besar tidak menyetujui kepemimpinanmu.”
Trump terdiam.

Abu Nawas melanjutkan.
“Mahkamah Agung negerimu membatalkan kebijakan tarifmu karena melanggar konstitusi.
Jika di rumah sendiri kau dibatasi,
bagaimana kau mengaku tak terbatas di dunia?”
Trump mulai terlihat kecil di tengah gurun.
“Aku kuat secara ekonomi!”

Abu Nawas:
“Kalau kuat,
mengapa memakai tarif proteksionis?
Apakah itu kekuatan —
atau ketakutan terhadap persaingan?”
Trump tidak menjawab.
Abu Nawas menatapnya lebih dalam.
“Jika kau penjaga kedamaian dunia,
mengapa gaya kepemimpinanmu menciptakan ketidakpastian?
Mengapa sekutu menjadi cemas?
Mengapa NATO merenggang?”

Trump berbisik.
“America First.”
Abu Nawas menjawab:
“America First bukan berarti America Alone.”
”Jika kamu mementingkan bangsamu, padahal mengaku pembela kedamaian dunia: bukankah itu pembunuh, mengebom anak-anak tidak berdosa, ibu tua renta yang tidak berdosa: yang benar kamu perusak kedamaain? Hanya berani membunuh yang tak berdosa, itu bukan Donald Trump namanya, itu Donald Bebek? Pungkas Abu Nawas.
Sunyi panjang.

Firaun dan Takabbur

Abu Nawas kemudian berkata pelan:
“Kau merasa lebih hebat dari Firaun dan Namrud.” Jangan-jangan kamu Dajjal bermata dua”?
Trump tersentak.
“Aku tidak pernah mengaku tuhan. Aku bukan Dajjal. Aku bukan Bebek!”. Aku penyelamat dunia.

Abu Nawas:
“Firaun dan Namrud tenggelam bukan karena ia berkata dirinya tuhan.
Ia tenggelam karena ia merasa tak tersentuh. Firaun mati tenggelam di Laut Merah. Namrud mati karena seekor nyamuk kecil masuk ke dalam hidungnya. Jangan-jangan ajalmu juga sedang menghitung hari mati berdiri karena kecongkakanmu”.  

Trump terdiam. Wajah Trump memerah seperti langit Israil, Telinganya keluar angin panas seperti bunyi desingan rudal. Jantung berdegup kencang bagaian bunyi bangunan roboh kena hentaman bom. Nafasnya tersengal-sengal seperti mau keluar ajal.

Abu Nawas melanjutkan.
“Takabbur bukan soal kalimat.
Takabbur adalah rasa bahwa kuasa ada di tanganmu sepenuhnya.”
Langit berubah menjadi cermin raksasa.
Trump melihat dirinya berdiri di atas peta dunia.
Namun bayangan itu retak.

Abu Nawas berbicara terakhir.
“Kekuatan manusia selalu punya batas.
Batas itu tidak bisa ditembus oleh rudal.
Tidak bisa diperluas oleh sekutu.
Tidak bisa dibenarkan oleh pidato.”

Trump merasa kecil.
Bukan kecil karena kalah perang.
Tetapi kecil karena menyadari dirinya fana.
Abu Nawas berjalan menjauh.
“Kuasa adalah amanah, bukan mahkota ilahi.
Dan setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.”
Gurun memudar.

Trump terbangun dalam keheningan. Tidak ada gurun. Tidak ada Abu Nawas. Tetapi ada satu hal yang tertinggal: Kesadaran bahwa tidak ada manusia yang bisa menyamai Tuhan. Tidak ada penguasa yang benar-benar tak terbatas. Tidak ada kekuatan yang abadi.

Dan sejarah Persia telah membuktikan satu hal: Peradaban yang berdiri di atas ilmu dan kesadaran akan batas selalu lebih panjang umur daripada kekuasaan yang berdiri di atas kesombongan.

Cermin bagi Para Penguasa

Sejarah tidak pernah tunduk pada satu orang. Ia mencatat. Ia menguji. Ia mengadili. Firaun pernah merasa tak tersentuh. Namrud pernah merasa tak tertandingi. Kisra Persia pernah merobek surat Nabi dengan angkuh. Semua merasa dunia ada di telapak tangan mereka.

Namun yang abadi bukan mahkota. Bukan rudal. Bukan koalisi militer. Bukan pangkalan di negeri orang. Yang abadi adalah kebenaran. Takabbur selalu lahir dari ilusi bahwa kuasa itu milik pribadi. Padahal kuasa hanyalah pinjaman.

Hari ini seseorang bisa memerintahkan perang. Besok ia diperintahkan oleh waktu. Hari ini seseorang bisa menjatuhkan pemimpin lain. Besok namanya sendiri dijatuhkan oleh sejarah. Persia pernah diserang berkali-kali.

Baghdad pernah dibakar. Abbasiyah pernah runtuh. Namun ilmu tetap hidup. Gagasan tetap bergerak. Dan kisah Abu Nawas tetap diwariskan. Karena kecerdikan lebih lama umurnya daripada kesombongan. Karena hikmah lebih kuat daripada propaganda. Karena peradaban lebih kokoh daripada ambisi pribadi. 

Penguasa yang merasa dirinya hampir menyamai Tuhan sebenarnya sedang berdiri paling dekat dengan kehancurannya sendiri. Sebab Tuhan tidak pernah membutuhkan sekutu.

Tuhan tidak pernah membutuhkan pangkalan. Tuhan tidak pernah takut pada opini publik.

Tuhan tidak pernah perlu pidato untuk membuktikan kuasa-Nya.

Manusia yang lupa batas akan selalu diingatkan oleh batas. Dan sejarah punya satu kebiasaan yang tak pernah gagal: Ia menertawakan mereka yang terlalu serius menganggap dirinya tak tergantikan. Maka mungkin yang dunia butuhkan bukan lebih banyak rudal.

Bukan lebih banyak aliansi militer. Bukan lebih banyak pidato kemenangan.

Dunia membutuhkan lebih banyak Abu Nawas. Bukan untuk menjatuhkan dengan kebencian. Tetapi untuk memantulkan cermin.

Cermin yang membuat penguasa melihat dirinya sendiri. Bukan sebagai penguasa dunia. Tetapi sebagai manusia. Karena pada akhirnya, semua mahkota akan jatuh.

Dan yang tersisa hanya satu pertanyaan: Apakah ia dikenang sebagai pembangun peradaban atau hanya sebagai gema kesombongan yang sebentar menggema lalu hilang? Sejarah sedang menunggu jawabannya.

Doa untuk Dunia dan Para Penguasanya

Maka jika malam ini ada penguasa yang merasa dirinya tak terkalahkan, semoga ia diberi kesadaran sebelum diberi peringatan. Jika ada pemimpin yang merasa bisa menentukan hidup dan mati sesuka hati, semoga ia diingatkan bahwa hidup dan mati bukan milik manusia.

Jika ada yang mengira kekuatan berarti kebebasan tanpa batas, semoga ia disadarkan bahwa setiap kekuatan selalu memiliki hisab.

Ya Allah, Tuhan yang Maha Mengatur sejarah, jangan Engkau biarkan dunia dipimpin oleh kesombongan. Jangan Engkau biarkan kekuasaan berubah menjadi berhala modern. Jangan Engkau biarkan manusia merasa dirinya tak tersentuh.

Bangkitkan di setiap zaman sosok-sosok yang seperti Abu Nawas —yang berani berbicara dengan kecerdikan, yang melawan dengan hikmah, yang menegur tanpa pedang, yang menjatuhkan kesombongan tanpa darah.

Bangkitkan pemimpin yang kuat tetapi rendah hati. Yang tegas tetapi adil. Yang berkuasa tetapi sadar bahwa kuasa itu titipan. Karena dunia tidak hancur oleh kelemahan. Dunia hancur oleh kesombongan yang tak terkendali.

Pada akhirnya, tak ada yang lebih kuat dari waktu. Tak ada yang lebih besar dari kebenaran.

Tak ada yang lebih tinggi dari Tuhan. Semoga sejarah ke depan ditulis bukan dengan api dan reruntuhan, tetapi dengan akal, keadilan, dan keberanian yang bermartabat.

Semoga siapa pun yang merasa dirinya penguasa dunia hari ini mampu melihat dirinya sendiri di cermin sebelum sejarah memantulkannya dengan cara yang lebih keras.

*) PENULIS adalah Guru Besar Ekonomi Islam dan Koordinator Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved