Kupi Beungoh
Menyalakan Harapan Baru Di Kampus Jantong Hate Rakyat Aceh
Namun lebih dari sekadar kemenangan dalam kontestasi kepemimpinan, yang jauh lebih penting adalah gagasan besar yang dibawa oleh kepemimpinan baru ini
Dalam konteks universitas, gagasan ini mengingatkan bahwa dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan seluruh pemangku kepentingan bukanlah sekadar bagian dari sistem administratif, melainkan subjek utama yang menghidupkan denyut intelektual sebuah kampus.
Pendekatan ini terasa sangat selaras dengan karakter Universitas Syiah Kuala yang selama ini dikenal sebagai “Jantong Hate Rakyat Aceh.”
Sebuah julukan yang lahir bukan dari slogan formal, melainkan dari ikatan emosional yang tumbuh dalam perjalanan sejarah antara universitas dengan masyarakat Aceh.
Sejak berdirinya pada tahun 1962, universitas ini tidak hanya berperan sebagai tempat mencetak sarjana.
Ia juga menjadi pusat peradaban intelektual Aceh, ruang bertemunya tradisi dan modernitas, serta tempat lahirnya gagasan-gagasan besar tentang masa depan daerah ini.
Bagi masyarakat Aceh, universitas ini adalah ruang harapan. Di sanalah anak-anak dari berbagai latar belakang sosial menaruh mimpi untuk memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu.
Di sanalah pula masyarakat berharap lahirnya generasi baru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta komitmen terhadap kemajuan masyarakat.
Karena itu, setiap kepemimpinan baru di universitas ini selalu membawa ekspektasi yang besar. Harapan agar universitas tidak hanya berkembang secara institusional, tetapi juga semakin kuat dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Harapan tersebut menjadi semakin relevan ketika universitas ini memasuki babak baru sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH) pada tahun 2022. Transformasi ini membuka ruang otonomi yang lebih luas bagi universitas untuk mengelola pendidikan, riset, dan tata kelola kelembagaan.
Dengan otonomi tersebut, universitas memiliki peluang yang lebih besar untuk memperkuat kualitas akademik, memperluas jejaring kolaborasi, serta meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Universitas dapat bergerak lebih lincah dalam merespons perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan daerah.
Namun perjalanan transformasi ini tentu tidak sepenuhnya bebas dari tantangan. Empat tahun pengalaman sebagai PTN-BH juga memperlihatkan bahwa perubahan kelembagaan selalu menghadirkan dinamika baru yang perlu terus disempurnakan.
Salah satu isu yang sering menjadi perhatian di lingkungan civitas akademika adalah persoalan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.
Harapan bahwa transformasi kelembagaan akan membawa perubahan signifikan terhadap kesejahteraan belum sepenuhnya dirasakan secara merata.
Sistem remunerasi, mekanisme penilaian kinerja, serta kesenjangan pendapatan antarunit kerja masih menjadi perbincangan yang cukup intens di lingkungan universitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Direktur-Kispol-Aceh-Dr-Effendi-Hasan-MA-mendorong-akses-bantuan-internasional.jpg)