Jumat, 12 Juni 2026

Kupi Beungoh

Menyalakan Harapan Baru Di Kampus Jantong Hate Rakyat Aceh

Namun lebih dari sekadar kemenangan dalam kontestasi kepemimpinan, yang jauh lebih penting adalah gagasan besar yang dibawa oleh kepemimpinan baru ini

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
Serambinews.com/HO/SERAMBINEWS.COM/ HO
Dosen Program Studi Ilmu Politik, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dr. Effendi Hasan, MA. 

*) Oleh: Dr. Effendi Hasan, MA

PERGANTIAN kepemimpinan dalam sebuah institusi pendidikan tinggi selalu menyimpan makna yang lebih dalam daripada sekadar pergantian figur di pucuk organisasi.

Ini adalah momentum refleksi sebuah titik jeda dalam perjalanan sejarah yang memberi ruang bagi sebuah lembaga untuk menengok kembali jejak langkah yang telah dilalui, membaca tantangan zaman yang kian berubah, serta merumuskan kembali harapan-harapan baru bagi masa depan.

Terpilihnya Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031 menjadi peristiwa yang sarat makna.

Momentum ini tidak hanya penting bagi civitas akademika universitas, tetapi juga bagi masyarakat Aceh secara luas.

Sebab universitas ini sejak lama telah menjadi lebih dari sekadar institusi pendidikan tinggi, ia adalah ruang lahirnya gagasan, tempat tumbuhnya harapan, dan medan pembentukan generasi yang kelak akan menentukan arah masa depan daerah ini.

Pada 2 Februari 2026, melalui proses pemilihan yang berlangsung secara demokratis di tingkat Majelis Wali Amanah (MWA), Prof. Mirza memperoleh kepercayaan mayoritas anggota MWA untuk memimpin universitas dalam lima tahun ke depan.

Dari 19 suara sah yang diberikan, beliau memperoleh 13 suara, mengungguli kandidat lainnya. Hasil tersebut menunjukkan kepercayaan yang kuat terhadap kapasitas kepemimpinan beliau dalam menakhodai universitas di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks.

Bagi sebagian kalangan di lingkungan universitas, hasil tersebut mungkin bukan sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan.

Sejak tahap awal proses penyaringan dan pemilihan, dukungan terhadap Prof. Mirza telah terlihat cukup kuat.

Rekam jejak kepemimpinan beliau, pengalaman sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta keterlibatannya dalam berbagai posisi strategis di luar dan di dalam universitas menjadi pertimbangan penting bagi para pemegang mandat institusi.

Namun lebih dari sekadar kemenangan dalam kontestasi kepemimpinan, yang jauh lebih penting adalah gagasan besar yang dibawa oleh kepemimpinan baru ini.

Prof. Mirza mengusung visi “USK Unggul, Inovatif, Berdampak, dan Berkelanjutan” dengan pendekatan tata kelola yang disebut sebagai Smart Humanocracy Governance.

Konsep ini menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh dinamika organisasi. Dalam cara pandang ini, universitas tidak lagi dipahami hanya sebagai struktur birokrasi yang kaku dengan prosedur administratif yang berlapis-lapis, melainkan sebagai ekosistem pengetahuan yang hidup yang digerakkan oleh kreativitas, kepercayaan, serta tanggung jawab kolektif.

Gagasan humanocracy yang diperkenalkan oleh pemikir manajemen global Gary Hamel dan Michele Zanini pada dasarnya mengajak organisasi modern untuk kembali pada hakikatnya: menghargai manusia sebagai sumber energi utama perubahan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved