Kupi Beungoh
Menyalakan Harapan Baru Di Kampus Jantong Hate Rakyat Aceh
Namun lebih dari sekadar kemenangan dalam kontestasi kepemimpinan, yang jauh lebih penting adalah gagasan besar yang dibawa oleh kepemimpinan baru ini
Isu ini tidak hanya disuarakan oleh kalangan dosen, tetapi juga menjadi perhatian para guru besar.
Tentu saja, persoalan ini tidak dapat diselesaikan secara sederhana. Transformasi kelembagaan membutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, serta kepemimpinan yang mampu membangun rasa keadilan dan kepercayaan di antara seluruh warga universitas.
Di sinilah kepemimpinan baru diuji. Kepemimpinan universitas bukan hanya tentang kemampuan administratif, tetapi juga tentang kemampuan merawat harapan.
Universitas adalah rumah besar bagi komunitas intelektual. Ia tidak dapat tumbuh dengan kuat jika warganya kehilangan rasa memiliki terhadap institusi tersebut.
Karena itu, membangun kembali kepercayaan, kebersamaan, dan rasa keadilan di antara seluruh civitas akademika menjadi pekerjaan penting bagi kepemimpinan baru.
Pendekatan Smart Humanocracy Governance yang ditawarkan oleh Prof. Mirza tampaknya mencoba menjawab kebutuhan tersebut.
Dalam paradigma ini, kecerdasan organisasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi atau kompleksitas sistem administrasi, tetapi dari kemampuan institusi membangun kolaborasi, kepercayaan, dan tanggung jawab kolektif.
Universitas yang kuat adalah universitas yang mampu menumbuhkan rasa kebersamaan di antara warganya. Di dalamnya, setiap orang merasa dihargai, didengar, dan memiliki ruang untuk berkontribusi.
Kini, menjelang pelantikan resmi kepemimpinan baru universitas pada 9 Maret 2026, harapan besar kembali disematkan pada masa depan Universitas Syiah Kuala.
Harapan agar universitas ini terus berkembang sebagai pusat ilmu pengetahuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Harapan agar kampus ini tetap menjadi tempat lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga jernih hatinya dan kuat integritasnya.
Lebih dari itu, masyarakat Aceh juga berharap universitas ini terus menjaga identitasnya sebagai rumah intelektual yang berpijak pada nilai-nilai lokal sekaligus terbuka terhadap perkembangan global.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah universitas tidak hanya diukur dari capaian akademiknya semata. Ia juga diukur dari seberapa besar harapan yang mampu ia hidupkan di hati masyarakat yang mempercayainya.
Kini, harapan itu kembali disematkan pada kepemimpinan baru. Semoga di bawah nahkoda yang baru, Universitas Syiah Kuala terus melangkah maju menjadi cahaya pengetahuan yang menerangi masa depan, menjadi rumah bagi lahirnya pemikiran- pemikiran besar, dan tetap setia menjadi jantong hate rakyat Aceh, tempat di mana harapan tentang masa depan selalu menemukan jalannya.(*)
*) Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Politik, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Direktur-Kispol-Aceh-Dr-Effendi-Hasan-MA-mendorong-akses-bantuan-internasional.jpg)