Rabu, 15 April 2026

Pojok Humam Hamid

Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr

Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Tujuannya adalah mengusir Amerika Serikat dari Timur Tengah dan memaksa rival besar menghitung ulang biaya keterlibatan mereka, bukan sekadar memenangkan satu pertempuran instan. 

Membangun ketahanan internal dan jaringan sekutu religional

Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama.

Untuk memahami strategi ini, kita harus melihat sejarah panjang Iran sebagai “yatim internasional”, negara yang sering menghadapi musuh besar tanpa sekutu setia. 

Titik awalnya jauh sebelum era modern. Pada 1828, melalui Treaty of Turkmenchay, Iran kehilangan wilayah besar di Kaukasus kepada Rusia - sebuah bukti bahwa negara itu berada di persimpangan kepentingan kekuatan besar. 

Titik balik modern terjadi pada 19 Agustus 1953, ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan oleh operasi CIA - AS dan MI6 - Inggris setelah ia menasionalisasi industri minyak karena ancaman terhadap kepentingan Barat, sebuah pengalaman yang membentuk keyakinan bahwa bergantung pada campur tangan asing selalu berujung pada pengkhianatan. 

Ini memperkuat kesadaran bahwa bertahan sendiri adalah satu‑satunya pilihan.

Baca juga: Iran vs Amerika: Ketahanan yang Tidak Biasa dan Kegagalan Strategi Superpower

Pelajaran itu diuji lagi pada Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah. Banyak mengira revolusi itu sekadar religius. Faktanya, ia adalah reaksi terhadap dominasi asing dan kerinduan kedaulatan. 

Revolusi ini mencampurkan aspirasi religius dengan nasionalisme Persia yang kuat. Tak lama kemudian, ketegangan wilayah memuncak menjadi perang Iran–Iraq. 

Konflik dimulai ketika Saddam Hussein memerintahkan invasi besar ke Iran pada 22 September 1980. 

Perang berlangsung hingga 1988, delapan tahun penuh kehancuran. Yang membedakan perang ini adalah dukungan asing terhadap Irak: Amerika Serikat memberi intelijen, kredit, teknologi, serta dukungan diplomatik, sementara negara Arab Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait memberi dukungan finansial besar.

Iran menghadapi perang sendiri, memperkuat pengalaman sebagai yatim internasional. Namun di balik kesendirian itu muncul kebijakan luar biasa: kesabaran strategis. 

Teheran tidak membalas secara impulsif atau agresif di luar konteks, tetapi memilih bertahan. Ia membangun ketahanan internal dan mengembangkan pendekatan kompleks melalui jaringan sekutu regional. 

Ini termasuk Hezbollah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman - strategi yang dikenal sebagai Axis of Resistance- sumbu perlawanan.

Baca juga: Teater Ambisi Trump dan Iran: Apa Beda “Pungo” dan “Puleh Pungo”

 Ini bukan ekspansi ideologis semata, tetapi cara mempertahankan negara sambil menguras sumber daya dan ketahanan lawan.

Program nuklir Iran sering disalahpahami oleh pengamat Barat sebagai ambisi agresif. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved