Rabu, 15 April 2026

Pojok Humam Hamid

Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr

Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Oleh Ahmad Humam Hamid *)

Melihat Iran sebagai konflik perang singkat adalah kekeliruan besar. Ini bukan Vietnam dengan garis depan jelas. 

Bukan pula intervensi AS di Amerika Latin atau invasi ke Irak dan Afghanistan yang bisa diukur dengan target strategis tertentu. 

Konflik Iran jauh lebih panjang. Lebih dalam. Sering disalahpahami karena banyak orang mencoba memahaminya dengan kerangka waktu terlalu sempit. 

Untuk itu, kita perlu menaikkan pandangan ke pundak pemikir besar: Vali Nasr, profesor hubungan internasional dan kajian Timur Tengah di Johns Hopkins University, School of Advanced International Studies (SAIS), penulis buku laris , Iran’s Grand Strategy: A Political History (2025). 

Nasr menjelaskan bahwa tindakan Iran bukan sekadar reaksi ideologis terhadap Barat, tetapi strategi panjang yang terstruktur dan historis. 

Banyak analis Barat membaca Iran sebagai negara teokratis, terlalu religius, dan dogmatis. Mereka melihat para mullah sebagai figur yang hanya bergulat dengan fiqih dan hukum teologi. 

Kenyataannya berbeda. Para mullah, bahkan mereka yang memegang kekuasaan tertinggi, adalah pembaca realitas sosial dan geopolitik yang tajam. 

Baca juga: Perang Iran, BoP, dan Kritik Tajam Anies kepada Prabowo

Mereka menerjemahkan narasi religius menjadi strategi nasional yang pragmatis. Identitas mereka mencakup agama, tentu saja, tetapi juga nasionalisme Persia yang tak tergoyahkan. Mereka sadar posisi Iran sebagai peradaban besar lintas milenium. 

Nasionalisme Iran bukan hanya soal Islam Syiah. Ia juga kebanggaan atas warisan kerajaan kuno 550 sebelum Masehi, Achaemenid dan Sasaniyah, sastra Persia, dan sejarah panjang sebagai pusat budaya dan pemerintahan di Asia Barat. 

Ayatullah Ruhollah Khomeini, misalnya, tidak hanya memimpin revolusi religius. Nasr menyebutnya “Lenin‑nya Iran”, bukan karena ia komunis, tetapi karena ia menerapkan teori ke dalam praxis kehidupan bangsa. 

Khomeini membangun institusi negara, struktur pemerintahan, dan strategi politik nyata. Ia menggabungkan teokrasi, sekuler pragmatis, dan nasionalisme Persia dalam satu visi.

Kunci memahami strategi Iran modern ada pada prinsip yang sejalan dengan gagasan filosofis Immanuel Kant tentang perdamaian abadi — bahwa perdamaian bukan sekadar niat moral, tetapi terjadi ketika pihak‑pihak yang berkonflik kehabisan sumber daya, kelelahan, dan tidak lagi mampu berperang .

Kant, filsuf Jerman abad ke‑18,  menulis perdamaian mesti dilihat sebagai hasil struktur politik dan perhitungan rasional antarnegara, bukan sekadar aspirasi moral semata. 

Baca juga: Weapon of The Weak: Strategi Iran Menjinakkan Kekuatan Super Power

Dalam konteks Iran, Teheran memahami prinsip ini dengan brutal: bukan moralitas yang memandu tindakan mereka, tetapi pragmatisme strategis - menunggu lawan kelelahan, lalu memaksa mundur. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved