Breaking News
Sabtu, 18 April 2026

Pojok Humam Hamid

Marathon Geopolitik, dan Yatim Internasional : Membaca Iran Lewat Vali Nasr

Teheran membaca konflik sebagai permainan panjang, di mana perhitungan sumber daya, kesabaran, dan ketahanan institusi negara menjadi alat utama

Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Sementara bagi Teheran ia adalah elemen deterrence — pencegahan, bukan soal bom semata, tetapi soal menghitung ulang biaya intervensi lawan setelah sejarah panjang tekanan dan isolasi. 

Teheran menikmati kesabaran ini seperti pelari maraton, bukan sprinter. Ia tidak mengejar kemenangan cepat. Ia tahu lawan bisa menang di babak awal, tetapi strategi Iran tetap: bertahan, membangun kekuatan internal, dan memperluas pengaruh secara perlahan. 

Sejarah panjang menguatkan pola ini: dari Treaty of Turkmenchay 1828, kudeta Mossadegh 1953, revolusi 1979, hingga perang Iran–Iraq 1980–1988 - setiap tekanan memperdalam kesadaran untuk berjalan sendiri dan memperkuat narasi “yatim internasional.”

Fenomena kontemporer memperlihatkan strategi ini dengan nyata. Serangan Iran terhadap seluruh pangkalan AS di Teluk, negara Arab, dan Asia Tengah menunjukkan jangkauan strategis luar biasa. 

Baca juga: IRGC Klaim Serang Puluhan Kapal Tangker, AS Siap Kerahkan Angkatan Laut, Harga Minyak Dunia Melonjak

Bukan sekadar reaksi atau propaganda. Iran menunjukkan kemampuan ofensif melalui proxy, rudal, drone, dan jaringan sekutu regional. 

Setiap serangan bertujuan mengalihkan tekanan, menciptakan biaya berkelanjutan, dan memaksa lawan menilai ulang keterlibatan mereka di kawasan. 

Serangan ini bukan aksi tunggal; ia terintegrasi dengan Axis of Resistance - sumbu perlawanan yang memperluas pengaruh Iran sekaligus menguras kesabaran lawan.

Bertahan lebih lama daripada lawan

Pandangan Nasr membuat konflik kontemporer antara Iran, AS, dan Israel lebih mudah dipahami. 

Serangan awal mungkin tampak berhasil bagi Washington atau Tel Aviv, tetapi strategi Iran adalah maraton geopolitik, bukan sprint. Tehran bertahan, membangun kapasitas internal, dan memperluas pengaruhnya secara bertahap. 

Babak awal bisa tampak Amerika menang, tetapi jika kita menunggu bulan, tahun, atau dekade, pola Iran tetap: kesabaran, pragmatisme, dan ketahanan. Tidak ada kemenangan instan, hanya kemenangan melalui keausan lawan.

Definisi kemenangan menurut Iran, dalam pandangan  Nasr, bukan memusnahkan musuh dalam hitungan minggu, tetapi bertahan lebih lama daripada lawan, memaksa mereka mundur, dan menjaga integritas nasional. 

Baca juga: Indonesia Untuk Perdamaian Dunia

Inilah kemenangan yang bersifat historis, pragmatis, dan strategis. Dalam kerangka ini, konflik nuklir, regional, dan militer yang sedang berlangsung hari ini bukan perang biasa. 

Ia adalah pertempuran panjang dengan logika maraton, di mana lawan diharapkan kelelahan, pengaruh diperluas perlahan, dan kemenangan terukur bukan dari jumlah serangan, melainkan dari kemampuan bertahan dan mempertahankan kedaulatan dalam jangka panjang. 

Iran tetap teguh, sabar, dan cerdik. Ia memanfaatkan sejarah panjangnya sebagai “yatim internasional” untuk membangun strategi yang menegaskan: bertahan lebih lama daripada lawan adalah kemenangan itu sendiri.

*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved