Kupi Beungoh
Nahkoda Baru dan USK dalam Peta Kampus Dunia
Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.
*) Oleh: Prof Mailizar
PADA 9 Maret 2026, Universitas Syiah Kuala (USK) memasuki babak baru perjalanannya. Profesor Mirza Tabrani dilantik sebagai rektor, menjadi nahkoda baru bagi kampus yang selama ini dikenal sebagai jantong hate — jantung hati — masyarakat Aceh.
Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar peristiwa administratif. Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.
Saya sengaja memilih kata "peta" alih-alih "peringkat" dalam tulisan ini, karena peta memberi dua makna sekaligus.
Pertama, peta memungkinkan orang lain melihat posisi kita di antara universitas-universitas lain.
Kedua, dan ini yang lebih penting, peta adalah alat navigasi, penunjuk arah ke mana langkah berikutnya harus diayunkan.
Pertanyaannya kini bukan hanya di mana posisi USK? tetapi juga: ke mana rektor baru akan membawa USK?
Lanskap Global yang Berubah
Dunia akademik global tidak berdiam diri. Universitas-universitas Cina kini tengah mengguncang tatanan yang selama puluhan tahun didominasi Amerika Serikat dan Eropa.
Tsinghua University, Peking University, Fudan University, dan Shanghai Jiao Tong University bukan hanya meroket dalam peringkat THE dan QS, tetapi juga mulai menyaingi universitas-universitas barat dalam produksi riset, kolaborasi internasional, dan inovasi teknologi.
Medan persaingan akademik global sedang bergeser, dan institusi yang bergerak tanpa visi yang jelas akan tergilas oleh arus perubahan ini.
Dalam lanskap inilah USK harus menemukan dan mempertajam posisinya, bukan dengan meniru begitu saja universitas-universitas besar, tetapi dengan membangun keunggulan yang berakar pada kekuatan dan keunikan Aceh sendiri.
Dalam dunia pendidikan tinggi global, dua lembaga pemeringkatan yang paling banyak dijadikan rujukan adalah Times Higher Education (THE) dan Quacquarelli Symonds (QS), keduanya berbasis di Inggris.
Tentu, sistem pemeringkatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagian pihak menilai pemeringkatan terlalu menekankan aspek riset dan internasionalisasi, sehingga kurang merepresentasikan kontribusi universitas terhadap masyarakat.
Namun demikian, pemeringkatan tetap berguna sebagai cermin objektif dan kompas strategis, ia memberi gambaran tentang posisi kita sekaligus panduan ke mana kita ingin melangkah.
Warisan yang Menjadi Pijakan
Rektor baru tidak memulai dari lembar kosong. Kepemimpinan sebelumnya telah menorehkan sejumlah capaian yang patut dijadikan pijakan. Saat ini USK menjadi satu-satunya universitas di Aceh yang berhasil masuk dalam THE World University Rankings (posisi 1500+) dan QS World University Rankings (posisi 1401+).
| Merindukan Calon Rektor UIN Ar-Raniry Bervisi Internasional |
|
|---|
| Regulasi Emosi: Mencegah Pelampiasan Stres Rumah Sakit ke Dalam Rumah Tangga |
|
|---|
| Pembenahan JKA di Era Mualem-DekFadh Demi Melayani Rakyat Kecil di Aceh |
|
|---|
| Tantangan Mendidik Anak di Era Digital |
|
|---|
| Jalan Tol Hingga Sepinya Saree, Ketika UMKM Tertinggal di Jalur Lama |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)