Kupi Beungoh
Nahkoda Baru dan USK dalam Peta Kampus Dunia
Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.
Tahun ini pun menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya USK berhasil menembus QS World Ranking, setelah empat tahun sebelumnya hanya hadir dalam QS Asia Ranking.
Lebih jauh dari itu, dalam THE Impact Ranking, pemeringkatan yang mengukur kontribusi universitas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), USK menempati posisi 601–800 dari 2.526 universitas dunia.
Dua bidang USK bahkan masuk Top 100 dunia: Quality Education (peringkat 66) dan Life Below Water (peringkat 79). Sementara itu, Climate Action dan Partnership for the Goals masuk dalam kelompok 200 besar dunia. Capaian ini bukan sekadar angka, ini adalah bukti bahwa USK telah memberi kontribusi nyata di panggung global.
Warisan ini adalah modal, bukan beban. Nahkoda baru mewarisi kapal yang sudah berlayar, yang perlu dilakukan adalah memperjelas peta, memperkuat mesin, dan menetapkan pelabuhan tujuan yang lebih jauh.
Reset, Refresh, Renew, Restart: Agenda Nahkoda Baru
Tantangan yang dihadapi Prof. Mirza Tabrani bukan sekadar menjaga momentum.
Dalam dunia yang berubah secepat ini, di mana teknologi digital mengubah cara manusia mengakses dan memproduksi pengetahuan, kecerdasan buatan menggeser batas-batas metode pembelajaran yang selama ini dianggap mapan, dan krisis iklim menuntut jawaban ilmiah yang konkret, universitas yang lamban beradaptasi tidak sekadar tertinggal, melainkan kehilangan relevansinya.
Dalam sebuah tulisan yang terbit bertepatan dengan hari pelantikan, Guru Besar USK Prof. Ahmad Humam Hamid mengajukan empat kata kunci yang ia anggap menentukan masa depan USK di bawah kepemimpinan baru: agenda reset, refresh, renew, dan restart yang mengiringi pelantikan rektor baru.
Bagi Prof. Humam, keempat kata itu bukan sekadar jargon manajemen, melainkan tuntutan nyata bagi sebuah universitas yang tidak ingin menjadi apa yang ia sebut sebagai “museum intelektual.”
Saya sepakat, dan ingin membaca ulang keempat kata itu. Reset berarti keberanian memutus rantai kebiasaan birokrasi yang terlalu lama dianggap normal.
Refresh adalah ‘pemberontakan’ terhadap ‘kelelahan’ akademik, kampus harus kembali menjadi ruang yang hidup oleh gagasan, bukan sekadar mesin pencetak ijazah yang sibuk namun kehilangan jiwa intelektualnya.
Renew berarti memperbarui isi universitas itu sendiri: kurikulum yang relevan dengan era kecerdasan buatan, riset yang menjawab persoalan nyata, dan kolaborasi internasional yang menghasilkan pengetahuan, bukan sekadar tanda tangan nota kesepahaman.
Terakhir, restart adalah langkah paling radikal, momen ketika USK memutuskan tidak lagi cukup puas berdiam dalam zona kenyamanan sebagai kampus daerah, tetapi berani menjadi pusat intelektual yang relevan bagi Aceh, Indonesia, dan dunia.
Tantangan Nyata di Hadapan Nahkoda Baru
Capaian ranking USK, meski membanggakan, menyimpan pekerjaan rumah yang tidak ringan. Salah satu tantangan utama adalah pada aspek riset. Dengan lebih dari 1.800 dosen, potensi kontribusi riset USK sangat besar.
Namun hanya Sebagian kecil dosen terlibat secara aktif dan produktif dalam penelitian. Sudah saatnya USK mendorong dan memfasilitasi seluruh dosen agar lebih aktif berkontribusi dalam riset, terutama riset yang relevan dan berdampak nyata bagi masyarakat Aceh dan Indonesia.
Salah satu langkah penting adalah mendukung dosen yang masih bergelar S2 untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral. Jumlah dosen S2 di USK masih cukup banyak, dan peningkatan kualifikasi ini akan berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas penelitian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)