Kupi Beungoh
Nahkoda Baru dan USK dalam Peta Kampus Dunia
Seperti yang dicatat para sejarawan pendidikan tinggi, momen seperti inilah yang kerap menentukan arah sebuah institusi selama puluhan tahun ke depan.
Selain itu, USK perlu menambah dan memperkuat program doktor yang ada, agar semakin banyak peneliti handal yang lahir dari kampus ini.
Tak kalah penting, USK harus membangun ekosistem riset yang lebih kondusif dan memperluas kolaborasi dengan institusi internasional. Kolaborasi global bukan sekadar prestise, melainkan pintu menuju riset bersama, akses pendanaan, dan penguatan reputasi USK di mata dunia.
Selain itu, satu hal lain yang sering luput dari diskusi tentang peringkat dan riset, tetapi sesungguhnya sangat menentukan citra kampus, adalah kondisi fisik lingkungan USK, khususnya kawasan di luar pagar kampus.
Siapa pun yang pernah melintas di sekitar Darussalam tentu merasakan kontras yang mencolok: di dalam kampus terdapat gedung-gedung yang terus berkembang, sementara di luar, kawasan sekitarnya kerap tampil kumuh, semrawut, dan tidak tertata.
Warung-warung liar, reklame yang tidak teratur, trotoar yang rusak, dan drainase yang buruk menciptakan kesan pertama yang kurang baik bagi siapa pun yang datang mengunjungi USK.
Kesan pertama itu penting. Universitas yang ingin masuk peta kampus dunia tidak bisa mengabaikan wajah yang ditampilkannya kepada dunia.
Kampus-kampus kelas dunia seperti Stanford atau MIT tidak hanya dikenal karena riset dan publikasinya, mereka juga berhasil mentransformasi kawasan di sekitarnya menjadi ekosistem inovasi yang hidup: penuh dengan ruang-ruang publik yang tertata, dan usaha rintisan yang tumbuh dari ilmu pengetahuan.
Inilah standar yang layak dijadikan rujukan. Nahkoda baru perlu membangun sinergi dengan pemerintah kota dan kabupaten, serta melibatkan komunitas lokal, untuk menata kawasan penyangga kampus Darussalam menjadi ruang yang bersih, nyaman, dan mencerminkan semangat intelektual yang hidup di dalamnya.
Kampus yang besar bukan hanya diukur dari publikasi ilmiahnya, tetapi juga dari kemampuannya mengangkat martabat ruang — dan manusia — di sekitarnya.
Satu Perahu, Semua Mendayung
Peta, dalam konteks ini, bukan sekadar alat ukur. Ia adalah pegangan agar kita tahu posisi dan arah langkah ke depan. Pelantikan Prof. Mirza Tabrani adalah momen yang tepat untuk menegaskan kembali: USK bukan hanya milik rektorat. Ia milik seluruh sivitas akademika.
Jika USK adalah perahu dayung besar, maka perahu ini tidak akan bergerak ke arah yang diinginkan jika hanya nahkoda yang menginginkannya.
Semua, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan alumni, perlu bergerak Bersama dan saling mendukung. Setiap langkah kecil yang dilakukan bersama akan membawa perubahan besar bagi kemajuan USK di masa depan.
Di tengah pergeseran besar dalam lanskap akademik global, USK berdiri di titik yang penuh potensi. Capaian yang telah diraih menjadi pondasi. Kepemimpinan baru menjadi momentum. Tantangan yang ada menjadi alasan untuk bergerak lebih cepat dan lebih jauh.
Jalan untuk semakin tampak dalam peta kampus dunia memang panjang dan menantang, tetapi bukan mustahil jika ada komitmen bersama yang dipimpin oleh nahkoda yang berani.
Selamat bertugas, Prof. Mirza. Peta sudah terbuka. Layar sudah berkembang. Kini saatnya USK berlayar lebih jauh. (*)
*) Penulis adalag Guru Besar FKIP USK dan Alumni James Madison University, USA
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)