Kamis, 23 April 2026

Salam

Kedisplinan di Jembatan Bailey Harus Ditegakkan

Pemberlakuan rekayasa lalu lintas di Jembatan Bailey Kutablang dan Jembatan Bailey Awe Geutah merupakan langkah yang tepat untuk mengurai kemacetan

Editor: mufti
for serambinews
Jembatan Kutablang 

Pemberlakuan rekayasa lalu lintas di Jembatan Bailey Kutablang dan Jembatan Bailey Awe Geutah merupakan langkah yang tepat untuk mengurai kemacetan sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan. Kebijakan yang disiapkan oleh Polres Bireuen bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Aceh patut diapresiasi karena mempertimbangkan kondisi jembatan yang masih bersifat darurat serta meningkatnya arus kendaraan menjelang Idul Fitri.

Namun, keberhasilan rekayasa lalu lintas tersebut tidak hanya bergantung pada aturan di atas kertas. Yang jauh lebih penting adalah ketegasan petugas di lapangan dalam menegakkan aturan tanpa kompromi.

Masalah klasik yang sering muncul di titik kemacetan adalah pengendara yang melawan arah. Tindakan ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas, tetapi juga pemicu kemacetan yang jauh lebih parah. Ketika satu kendaraan nekat melawan arus, kendaraan lain sering ikut-ikutan. 

Akibatnya, jalan yang seharusnya bisa diatur satu arah justru berubah menjadi simpul kemacetan yang sulit diurai. Karena itu, petugas harus bertindak tegas terhadap siapa pun yang mencoba mengambil jalan pintas dengan melawan arah.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah pengawasan terhadap kendaraan bertonase besar. Jembatan Bailey di Kutablang memiliki batas maksimal 30 ton. Pelanggaran terhadap batas ini bukan sekadar soal aturan administrasi, melainkan menyangkut keselamatan infrastruktur dan pengguna jalan. 

Jika kendaraan dengan muatan berlebih tetap dipaksakan melintas, risiko kerusakan bahkan patahnya lantai jembatan menjadi ancaman nyata. Situasi seperti itu tentu dapat membahayakan banyak orang sekaligus melumpuhkan arus transportasi di jalur vital Aceh bagian timur.

Selain itu, kebiasaan buruk sebagian pengendara yang menyalip antrean juga harus dihentikan. Di jalur sempit seperti jembatan Bailey, tindakan menyalip tidak hanya membahayakan keselamatan, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan dan keributan antar pengendara. Masyarakat yang sudah tertib mengantre tentu merasa dirugikan ketika ada pihak yang mencoba mengambil keuntungan dengan melanggar aturan.

Dalam kondisi seperti ini, kehadiran petugas bukan hanya sebagai pengatur lalu lintas, tetapi juga sebagai penegak disiplin di jalan raya. Ketegasan menjadi kunci agar semua pengguna jalan mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Pada akhirnya, rekayasa lalu lintas hanya akan efektif jika petugas tegas dan masyarakat patuh. Ketertiban di jalan bukan semata-mata tanggung jawab aparat, tetapi juga kesadaran bersama. 

Dengan disiplin dan saling menghargai, arus kendaraan dapat tetap lancar, jembatan tetap aman, dan masyarakat dapat menjalani perjalanan dengan lebih nyaman menjelang Idul Fitri. Semoga!

POJOK

Digempur Iran, Pemerintah Israel singgung batas akhir perang

Kau yang memulai, tapi tak sanggup mengakhiri, kan?

Saat ini Kota Tel Aviv digambarkan seperti kota hantu

Iya iayalah, pemimpinnya saja seperti kuntilanak kok?

Spanyol tarik secara permanen duta besarnya dari Isreal

Setuju, percuma bertahan di negara yang tak kenal HAM, tahu?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved