KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai
Israel menabuh perang menyerang Iran pada 28 Februari 2026, bersama sekutunya pasukan gabungan Amerika Serikat
Oleh karena itu, manusia modern sesungguhnya memiliki keinginan kuat untuk menghindari perang, kelaparan, dan penyakit. Kenyataannya hingga saat ini upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil.
Jika ditinjau dari perspektif sejarah, bentuk perang terus mengalami perubahan.
Pada masa lampau, perang sering kali berlangsung secara sederhana, misalnya pertempuran antara satu kelompok suku dengan kelompok lainnya menggunakan senjata genggam seperti tombak, pedang, atau panah.
Pertempuran dilakukan dalam jarak dekat dan memiliki batas-batas tertentu.
Dalam banyak tradisi peperangan klasik, terdapat aturan tidak tertulis yang menghormati tempat ibadah, orang sakit, serta kelompok masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran.
Seiring dengan perkembangan teknologi, karakter perang pun berubah. Penemuan senjata api dan meriam membawa dimensi baru dalam peperangan.
Pada abad ke-20, teknologi militer berkembang sangat pesat. Dalam Perang Dunia I digunakan tank dan gas beracun yang menyebabkan penderitaan luar biasa bagi para tentara dan masyarakat sipil.
Pada Perang Dunia II, penggunaan pesawat tempur, kapal selam, dan berbagai senjata pemusnah massal meningkatkan skala kehancuran secara drastis. Kota - kota hancur, jutaan penduduk sipil menjadi korban, dan norma kemanusiaan dalam perang semakin tergerus.
Di era kontemporer, perang tidak hanya melibatkan pertempuran langsung di medan tempur, tetapi juga jaringan kompleks industri persenjataan global.
Negara-negara besar berlomba mengembangkan teknologi militer yang semakin canggih. Anggaran militer di banyak negara bahkan jauh lebih besar dibandingkan anggaran pendidikan atau kesehatan.
Perlombaan senjata ini menciptakan sebuah sistem yang secara tidak langsung mendorong keberlanjutan konflik bersenjata.
Baca juga: Sosok Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC, Pernah Dituduh Tewaskan 85 Yahudi Dalam Ledakan di Argentina
Dalam situasi tersebut muncul pertanyaan mendasar: berapa sebenarnya biaya perdamaian?
Jika dunia mampu mengalokasikan dana yang sangat besar untuk pengembangan senjata, seharusnya upaya untuk membangun perdamaian juga dapat memperoleh dukungan yang sama besar. Perdamaian bukanlah sebuah ilusi, melainkan kebutuhan nyata bagi keberlangsungan kehidupan manusia.
Sejak dahulu manusia sebenarnya selalu mendambakan perdamaian. Bahkan ketika perang terjadi, keinginan untuk hidup dalam kondisi damai tetap menjadi aspirasi universal.
Sebagian orang mencoba membangun perdamaian dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga dan masyarakat sekitar.
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijakan-Indonesia_27062025.jpg)