KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai
Israel menabuh perang menyerang Iran pada 28 Februari 2026, bersama sekutunya pasukan gabungan Amerika Serikat
Bagi sebagian orang lainnya, persoalan perdamaian dunia dianggap terlalu besar untuk dipikirkan sehingga diserahkan kepada para pemimpin negara atau kepada kekuatan ilahi.
Perdamaian tanggung jawab seluruh umat manusia
Sejarah juga menunjukkan bahwa kekuasaan yang terlalu besar dan dominan pada akhirnya akan mengalami kemunduran.
Banyak imperium besar dalam sejarah dunia yang akhirnya runtuh karena berbagai faktor, termasuk konflik internal, tekanan sosial, dan perubahan moral masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan militer semata tidak dapat menjamin keberlanjutan sebuah peradaban.
Pada akhirnya, perdamaian bukanlah kemewahan yang hanya dinikmati oleh sebagian bangsa. Perdamaian merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan manusia.
Tanpa perdamaian, pembangunan ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kesejahteraan sosial tidak akan dapat berkembang secara optimal. Hanya dalam kondisi damai manusia dapat membangun peradaban yang maju, menciptakan kesejahteraan bersama, dan menjaga keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Baca juga: Ekonomi India Terancam, Dampak Perang AS–Israel Lawan Iran Picu Krisis Energi Global
Dengan demikian, perjuangan untuk mewujudkan perdamaian dunia bukanlah tanggung jawab satu negara atau satu kelompok saja, melainkan tanggung jawab seluruh umat manusia.
Perdamaian harus dibangun melalui kesadaran moral, kerja sama internasional, serta penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Masa depan peradaban manusia pada akhirnya tidak ditentukan oleh kemampuan untuk berperang. Tapi oleh kemampuan untuk hidup bersama dalam perdamaian. Semoga.
*) PENULIS adalah Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Alumni Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca Artikel KUPI BEUNGOH Lainnya di SINI
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijakan-Indonesia_27062025.jpg)