KUPI BEUNGOH
Perang dan Damai
Israel menabuh perang menyerang Iran pada 28 Februari 2026, bersama sekutunya pasukan gabungan Amerika Serikat
Oleh: Yunidar. ZA*)
Israel menabuh perang menyerang Iran pada 28 Februari 2026, bersama sekutunya pasukan gabungan Amerika Serikat - Israel, membombardir pusat pemerintahan Iran.
Serangan ini menghancurkan fasilitas publik pusat perkantoran sekaligus ruang kerja pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa pejabat tinggi Iran.
Celakanya, skenario perang Donald Trump dan Netayahu bukan sebuah pembebasan untuk demokrasi rakyat Iran.
Perang ini membuat penderitaan dukka mendalam untuk rakyat Iran yang sangat besar, melanggar hukum humaniter, merendahkan martabat kemanusiaan, menyengsarakan umat manusia.
Perang meluas dan menjadi ancaman terhadap kebutuhan energi masyarakat dunia. Selat Homuz ditutup oleh Iran.
Kapal pengangkut minyak dari Timur Tengah dilarang melintas tanpa persetujuan dari Iran, kemudian kapal milik AS dan Thailand dirudal Iran karena nekat melintas di selat Hormuz.
Dalam beberapa minggu terakhir dunia kembali menyaksikan eskalasi konflik bersenjata yang sangat dahsyat di kawasan Timur Tengah.
Namun di tengah derasnya arus informasi global, pemberitaan mengenai penderitaan para korban sering kali tidak memperoleh ruang yang memadai.
Media lebih banyak menampilkan dinamika militer, strategi perang, dan pernyataan para pemimpin negara, sementara rasa sakit dan penderitaan manusia korban yang terkena bom, rudal, atau serangan senjata modern jarang diungkap secara mendalam.
Padahal di balik setiap ledakan dan serangan militer terdapat manusia anak-anak, perempuan, orang tua, dan masyarakat sipil tidak ikut pernag dan menjadi korban dari konflik perang yang tidak mereka pilih.
Bayangkan sebuah bom dijatuhkan dari jarak jauh menuju sebuah sekolah dasar SD Shajareh Tayyebeh di Minap Iran oleh serangan As - Israel yang setidaknya 165 anak-anak, dalam sekejap nyawa melayang.
Sebuah serangan dapat mengakhiri kehidupan puluhan bahkan ratusan orang dalam waktu yang sangat singkat.
Di antara mereka mungkin terdapat lebih dari seratus anak yang sedang belajar, serta orang dewasa yang berada di sekitar lokasi tersebut.
Namun sering kali korban-korban tersebut tidak disebutkan secara rinci dalam pemberitaan.
| Kupiah Meukeutop dan Nama Besar Kampus Aceh: Menjaga atau Mengerdilkan? |
|
|---|
| Refleksi Hardiknas: Alarm Karakter dan "Eksploitasi Keikhlasan" |
|
|---|
| Serahkan Urusan pada Ahlinya, Jika Tidak Maka Tunggulah Kehancuran |
|
|---|
| Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita |
|
|---|
| Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Yunidar-ZA-Anggota-Asosiasi-Analis-Kebijakan-Indonesia_27062025.jpg)