Selasa, 28 April 2026

KUPI BEUNGOH

Perang dan Damai

Israel menabuh perang menyerang Iran pada 28 Februari 2026, bersama sekutunya pasukan gabungan Amerika Serikat

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Yunidar ZA, Anggota Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI) dan Alumni Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 

Penderitaan manusia menjadi seolah-olah angka statistik yang dingin, sementara para pengambil keputusan yang berada jauh dari medan perang tetap berada dalam posisi aman.

Baca juga: Indonesia Untuk Perdamaian Dunia

Perkembangan teknologi militer modern telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berperang. 

Jika pada masa lalu peperangan dilakukan dengan kontak langsung antara dua pihak yang berhadapan di medan perang, maka saat ini pembunuhan dapat dilakukan dari jarak ribuan kilometer hanya dengan menekan sebuah tombol di pusat komando militer. 

Rudal balistik, drone tempur, dan berbagai sistem senjata presisi tinggi memungkinkan serangan dilakukan tanpa kehadiran fisik di lokasi konflik. 

Namun kemajuan teknologi tersebut juga menghadirkan paradoks moral, kemampuan membunuh menjadi semakin mudah, sementara tanggung jawab etis terhadap korban sering kali semakin kabur.

Ilmu pengetahuan dan teknologi memang telah berkembang sangat pesat. Tapi, perkembangan tersebut tidak selalu diiringi oleh kemajuan dalam dimensi etika dan kemanusiaan. 

Ilmu pengetahuan mampu menciptakan teknologi yang canggih, namun ia tidak selalu mampu memberikan jawaban terhadap persoalan moral manusia.

 Jika perkembangan teknologi tidak diimbangi dengan kesadaran etika yang kuat, maka teknologi justru dapat menjadi alat yang memperbesar dampak kehancuran. 

Motivasi politik, kepentingan ekonomi, dan ambisi kekuasaan dapat dengan mudah memanfaatkan teknologi untuk tujuan yang bersifat destruktif.

Dalam kondisi dunia modern, proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perang sering kali berada di tangan segelintir pemimpin politik dan militer. 

Keputusan yang mempengaruhi nasib jutaan manusia terkadang harus dibuat dalam waktu yang sangat singkat. 

Dalam praktiknya, keputusan tersebut tidak selalu mencerminkan aspirasi masyarakat luas. 

Dengan demikian, masa depan umat manusia sering kali ditentukan oleh keputusan beberapa orang yang berada di pusat-pusat kekuasaan global.

Selain wabah penyakit dan kelaparan, perang merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan kehidupan manusia. 

Sejarah menunjukkan bahwa perang selalu membawa penderitaan yang luas, baik dalam bentuk korban jiwa, kerusakan infrastruktur, krisis kemanusiaan, maupun trauma sosial yang berlangsung dalam jangka panjang. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved