Rabu, 15 April 2026

Opini

Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar

Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.

Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

M. Shabri Abd. Majid*)

Ramadhan tidak pernah datang dengan gaduh. Ia hadir seperti embun di fajar: sunyi, tetapi menembus jiwa.

Ia bukan sekadar bulan menahan lapar; ia adalah bulan menahan diri—menahan nafsu, ego, dan kata. Dan sebagaimana ia datang dengan tenang, Ramadhan juga akan pergi tanpa suara. Kini kita berada di penghujungnya.

Ia menjauh perlahan seperti senja yang memudar di ufuk, meninggalkan satu pertanyaan yang mengguncang: apakah kita benar-benar berubah, atau hanya sekadar melewati hari-harinya?

Tujuan puasa adalah takwa (Q.S. Al-Baqarah: 183). Takwa tidak diukur dari berapa kali kita berbuka dengan kurma, tetapi dari seberapa sering kita menahan diri ketika ingin melukai.

Ia lahir dalam keputusan kecil: mengetik atau menghapus, membalas atau menahan, menyebarkan atau menghentikan.

Rasulullah SAW memberi peringatan keras: “Allah tidak membutuhkan puasa orang yang masih berkata dusta dan berbuat buruk” (HR. Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Betapa banyak orang berpuasa yang tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ath-Thabrani).

Puasa bisa sah secara hukum, tetapi bangkrut secara nilai: perut kosong, tetapi hati penuh kebencian; tubuh tunduk, tetapi lisan merusak.

Imam Al-Ghazali membagi puasa dalam tiga tingkat: puasa awam yang menahan makan, puasa khusus yang menahan anggota tubuh dari dosa, dan puasa tertinggi yang menjaga hati dari selain Allah.

Jika jari masih ringan mencela dan komentar masih tajam menusuk, mungkin kita masih berada di lapisan terluar. Dan hari ini, ujian itu tidak lagi hanya di pasar atau di warung kopi. Ia hadir di layar ponsel kita—di timeline, di kolom komentar, di ujung jempol kita.

Lisan yang Menjelma Layar

Dulu, kata keluar dari mulut. Kini ia keluar dari jempol. Status, komentar, story, video—semuanya adalah lisan yang berganti wajah.

Allah telah memperingatkan bahwa setiap kata dicatat (Q.S. Qaf: 18). Termasuk yang diketik dalam gelap kamar pada pukul dua pagi.

Satu komentar emosional bisa memantik api berhari-hari. Satu unggahan tanpa verifikasi bisa mengguncang ketenangan banyak orang. Tetapi satu kalimat lembut juga bisa menyelamatkan jiwa yang nyaris runtuh.

Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved