Opini
Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar
Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.
Jika hati jernih, ia menjadi jalan rahmat. Orang tua Aceh sering berpesan, “Peugah bek beurangkahoe, sebab lidah hana tuleung.”
Mulutmu harimaumu. Lidah tak bertulang dan berpotensi meruntuhkan kehormatan. Di era ini, bukan hanya lidah yang harus dijaga—jempol juga. Bahkan jempol lebih berbahaya. Lidah hanya didengar yang dekat; jempol bisa menjangkau ribuan.
Ramadhan adalah madrasah kelembutan. Jika kita mampu menahan air yang halal, mengapa sulit menahan komentar yang menyakitkan? Jika kita mampu menahan lapar berjam-jam, mengapa berat menahan diri beberapa detik sebelum menekan “kirim”?
Baca juga: Ramadhan: Menjinakkan Monster Kapitalisme dengan Neraca Takwa
Puasa yang Bocor
Ironi zaman ini: pagi membagikan ayat, sore menyebarkan prasangka. Allah memerintahkan tabayyun agar tidak menyesal (Q.S. Al-Hujurat: 6).
Tetapi dalam budaya viral, kehati-hatian kalah oleh kecepatan. Imam Malik mengingatkan, banyak bicara adalah pintu banyak salah.
Di media sosial, kesalahan tidak hilang tertiup angin; ia tersimpan, di-screenshot, dibagikan ulang. Jejak digital adalah jejak amal.
Orang kuat bukan yang menang dalam pertarungan, tetapi yang mampu menahan amarah (HR. Bukhari dan Muslim).
Di dunia maya, kekuatan itu terlihat pada mereka yang tidak terpancing. Yang tidak merasa wajib menang. Yang tidak menjadikan perbedaan sebagai arena ego.
Puasa tanpa penjagaan lisan ibarat bejana bocor. Diisi dzikir pagi hari, terkuras oleh sindiran sore hari. Diisi doa malam hari, tergerus komentar pedas keesokan harinya.
Diam bukan kelemahan. Diam adalah kedewasaan. Imam Syafi’i berkata, jika manfaat bicara tidak jelas, maka diam lebih utama.
Betapa banyak pahala terselamatkan hanya karena seseorang memilih untuk tidak membalas.
Waktu yang Terhisap Layar
Ramadhan adalah bulan yang singkat tetapi berat timbangan pahalanya. Setiap malamnya mungkin lebih baik dari seribu bulan.
Tetapi waktu kita sering tersedot oleh scrolling tanpa arah. Sahur ditemani notifikasi. Siang hari diisi timeline. Malam terjaga oleh perdebatan tak perlu.
Allah bersumpah atas waktu (Q.S. Al-‘Asr). Imam Hasan Al-Bashri berkata, manusia adalah kumpulan hari; ketika satu hari berlalu, sebagian dirinya hilang.
Maka setiap menit yang kita habiskan pada hal sia-sia adalah potongan diri yang tak kembali. Ramadhan bukan tentang seberapa aktif kita di dunia maya. Ia tentang seberapa hidup hati kita di hadapan Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)