Opini
Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar
Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.
Di era media sosial, pahala dan dosa tidak lagi berhenti pada satu tindakan. Ia bisa menjelma arus panjang. Mengalir sebagai cahaya.
Atau menjalar sebagai api. Rasulullah SAW bersabda: ”ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan” (HR. Muslim). Amal yang terus hidup meski jasad telah berhenti.
Namun hukum ini juga berlaku sebaliknya. Dosa pun bisa berantai. Dosa bisa viral. Dosa bisa menjadi warisan digital yang tak pernah benar-benar padam.
Allah menyebut bahwa Dia mencatat amal dan bekas-bekas yang ditinggalkan (Q.S. Yasin: 12). Bekas itu adalah dampak. Jejak. Pengaruh yang terus hidup bahkan setelah pelakunya pergi.
Di dunia maya, satu konten tidak pernah benar-benar mati. Satu video maksiat bisa terus ditonton. Satu komentar kebencian bisa diwariskan.
Satu unggahan yang meremehkan agama bisa terus dibagikan. Itulah dosa berantai. Kita mungkin sudah lupa, tetapi algoritma tidak lupa. Kita mungkin sudah menghapus, tetapi orang lain telah menyimpan.
Sebaliknya, satu nasihat yang jujur bisa menjadi sedekah jariyah digital.
Satu tulisan yang mencerahkan bisa menjadi pahala yang terus mengalir. Satu pengingat kebaikan bisa menjadi cahaya panjang setelah kita tiada.
Di ujung Ramadhan, jawabannya bukan di foto iftar atau jumlah story. Jawabannya ada di kolom komentar kita. Apakah kita menjadi penyejuk, atau pemantik api? Apakah kita menambah cahaya, atau memperpanjang gelap?
Media sosial memang bermata dua. Ia bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir, atau dosa yang beranak-pinak.
Allah mengingatkan bahwa sekecil apa pun akan diperlihatkan (Q.S. Az-Zalzalah: 7–8). Agar pahala tidak luruh di komentar, lakukan yang konkret: Tahan sebelum kirim.
Verifikasi sebelum share. Jaga adab saat berbeda. Luruskan niat sebelum posting. Batasi waktu scrolling. Tutup aib, jangan umbar. Isi timeline dengan cahaya.
Rasulullah SAW bersabda, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).
Di zaman ini, pesan itu terasa semakin relevan: tulislah yang baik, atau jangan menulis sama sekali. Ramadhan mengajarkan satu pelajaran paling mendasar: memilih.
Memilih sabar di atas marah. Memilih hikmah di atas sensasi. Memilih cahaya di atas api. Karena di ujung jempol itulah, takwa sering kali diuji.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)