Opini
Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar
Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.
Kini Ramadhan hampir berlalu. Ia akan pergi seperti ketika ia datang—sunyi, tanpa gaduh—tetapi seharusnya meninggalkan bekas.
Bekas kesabaran dalam jiwa. Bekas kejernihan dalam pikiran. Bekas kehati-hatian dalam kata. Semoga Ramadhan ini bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendidik jempol kita.
Sebab setelah Ramadhan pergi, setiap kata yang kita tulis akan terus berjalan—entah sebagai pahala yang mengalir, atau sebagai dosa yang tak pernah berhenti mengejar pemiliknya.
*) PENULIS Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Guru-Besar-Ekonomi-Islam-Universitas-Syiah-Kuala-Banda-Aceh-Shabri-A-Majid.jpg)