Breaking News
Sabtu, 25 April 2026

Opini

Ramadhan di Ujung Jempol: Jangan Biarkan Pahala Luruh di Komentar

Media sosial bukan setan. Ia hanya cermin. Ia memperbesar apa yang ada di dalam diri. Jika hati keruh, ia menjadi saluran kebencian.

Serambinews.com/HO
SHABRI A MAJID - Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. 

Kini Ramadhan hampir berlalu. Ia akan pergi seperti ketika ia datang—sunyi, tanpa gaduh—tetapi seharusnya meninggalkan bekas.

Bekas kesabaran dalam jiwa. Bekas kejernihan dalam pikiran. Bekas kehati-hatian dalam kata. Semoga Ramadhan ini bukan hanya menahan lapar, tetapi juga mendidik jempol kita.

Sebab setelah Ramadhan pergi, setiap kata yang kita tulis akan terus berjalan—entah sebagai pahala yang mengalir, atau sebagai dosa yang tak pernah berhenti mengejar pemiliknya.

*) PENULIS Penulis adalah Guru Besar Ekonomi Islam Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. E-mail: mshabri@usk.ac.id 

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved