Jurnalisme Warga
Keutamaan Waktu Malam Saat Ramadhan yang Perlu Diburu
Reportase ini saya rangkum dari isi ceramah Ustaz Helmi Bustami bakda isya di Masjid Al-Ikhlas Geulanggang Teungoh, Kecamatan Kota Juang, Bireuen
Malam hari adalah waktu turunnya rahmat dan dikabulkannya doa. Dalam hadis disebutkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berfirman, “Adakah hamba-Ku yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan?” Momentum ini adalah kesempatan emas, doa-doa yang dipanjatkan pada malam Ramadhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan, baik doa untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, maupun umat.
Menghidupkan malam Ramadhan berarti meneladani sunah Nabi. Tradisi Tarawih berjemaah, iktikaf di masjid, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dan memperbanyak zikir adalah bagian dari warisan spiritual Islam yang terus dijaga hingga kini. Ketaatan pada sunah tidak hanya bernilai pahala, tetapi juga menjaga identitas keislaman di tengah arus modernitas yang sering kali melalaikan nilai-nilai spiritual.
Tidak ada yang tahu secara pasti kapan Lailatulqadar terjadi. Oleh karena itu, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.
Orang yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam Ramadhan berpeluang besar mendapatkan kemuliaan tersebut. Sementara mereka yang lalai, bisa jadi melewatkan malam paling berharga dalam hidupnya.
Jika malam Ramadhan adalah lahan subur pahala, maka mengabaikannya adalah kerugian besar. Kerugian ini bukan sekadar kehilangan pahala, tetapi juga kehilangan kesempatan transformasi spiritual.
Ramadhan datang hanya setahun sekali. Tidak ada jaminan seseorang akan bertemu Ramadhan berikutnya. Mereka yang menyia-nyiakan malamnya dengan tidur berlebihan, hiburan tak bermanfaat, atau aktivitas sia-sia telah kehilangan kesempatan emas untuk pengampunan.
Betapa banyak orang yang berharap bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki diri, tetapi waktu tidak pernah mundur.
Di era digital, malam Ramadhan sering kali dihabiskan untuk menonton hiburan, bermain gim, atau berselancar di media sosial hingga larut.
Aktivitas ini mungkin tampak sepele, tetapi jika menggeser ibadah, maka ia menjadi bentuk kelalaian. Ramadhan yang seharusnya menjadi bulan pengendalian diri justru berubah menjadi bulan konsumsi hiburan. Ini paradoks yang merugikan.
Salah satu dampak tidak memanfaatkan malam untuk ibadah adalah mengerasnya hati.
Ibadah malam melembutkan jiwa dan membersihkan hati dari karat dosa. Tanpa itu, hati mudah dikuasai emosi, amarah, dan kesombongan.
Orang yang tidak pernah merasakan bangun malam mungkin tidak memahami kelezatan spiritualnya. Ada ketenangan luar biasa ketika sujud dalam sunyi, ketika doa dipanjatkan dengan air mata. Tanpa pengalaman itu, Ramadhan terasa datar dan biasa saja.
Banyak orang baru tersadar ketika Ramadhan hampir berakhir. Mereka menyesal karena malam-malam sebelumnya terlewat begitu saja. Namun, waktu yang hilang tidak bisa kembali.
Penyesalan ini sering muncul ketika menyadari bahwa Lailatulqadar mungkin telah berlalu tanpa disadari.
Malam bukan sekadar waktu gelap setelah siang. Dalam perspektif Islam, malam adalah ruang kontemplasi dan perenungan. Para ulama besar, para wali, dan para pejuang Islam menjadikan malam sebagai sumber kekuatan spiritual mereka. Transformasi diri sering terjadi dalam keheningan. Keputusan untuk berhijrah, memperbaiki akhlak, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai hidup baru sering lahir dari doa-doa malam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Zubair-2025.jpg)